BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Banyumas resmi dimulai. Pembukaan yang dilakukan Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono pada Rabu (29/7) menjadi penanda dimulainya babak baru dalam upaya menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif bagi anak-anak dari keluarga rentan, termasuk mereka yang sempat putus sekolah.
Di hadapan para siswa, guru, tenaga kependidikan, dan orang tua, Sadewo menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat bukan sekadar membangun gedung baru, melainkan menghadirkan kesempatan yang selama ini sulit dijangkau sebagian anak Indonesia.
"Kehadiran Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 ini bukan sekadar menambah pilihan layanan pendidikan, tetapi membuka harapan baru bagi anak-anak kita meraih masa depan lebih baik," ujar Sadewo.
Menurutnya, pendidikan merupakan hak setiap anak tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun sosial. Karena itu, pemerintah terus berupaya memperluas akses pendidikan yang berkualitas agar tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan belajar.
Bupati juga memberikan motivasi kepada seluruh peserta didik baru agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan penuh tanggung jawab. Ia mengajak mereka belajar secara sungguh-sungguh, menjaga disiplin, serta membangun karakter sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah.
"Insya Allah kalian akan tumbuh jadi generasi cerdas, berkarakter, mandiri, berdaya saing, membahagiakan orang tua, dan bermanfaat bagi masyarakat serta negara," pesannya.
Tak hanya berfokus pada peserta didik, Sadewo juga memberikan perhatian besar terhadap kualitas lingkungan pendidikan. Ia meminta seluruh guru, tenaga kependidikan, hingga pengasuh asrama menciptakan ruang belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan maupun perundungan.
Berita sebelumnya:
Pesan tersebut menjadi penting karena Sekolah Rakyat tidak hanya bertugas mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga memulihkan kepercayaan diri anak-anak yang selama ini menghadapi berbagai hambatan untuk kembali bersekolah.
Harapan itu tercermin dari kisah Ade Kirana, siswa baru kelas VIII SMP asal Desa Wlahar, Kecamatan Wangon. Ade mengaku bersyukur diterima di Sekolah Rakyat dan terkesan dengan fasilitas sekolah yang menurutnya sangat baik.
Meski kedua orang tuanya bekerja di luar kota, semangat Ade untuk belajar tetap tinggi. Ia berharap dapat memulai kehidupan sekolah yang lebih baik, meskipun masih menyimpan kekhawatiran akibat pengalaman pernah mengalami perundungan di sekolah sebelumnya.
"Saya ingin belajar dengan tenang dan punya teman-teman yang baik," ungkapnya.
Cerita lain datang dari Wartiah, wali murid yang mengantarkan cucunya mengikuti MPLS. Baginya, Sekolah Rakyat menjadi titik balik setelah sang cucu sempat putus sekolah sejak kelas III SD selama lebih dari tiga tahun.
Melalui proses pendampingan, cucunya akhirnya bersedia kembali mengenyam pendidikan dengan tekad untuk mengubah masa depan. Bagi Wartiah, kesempatan tersebut bukan sekadar kembali ke ruang kelas, tetapi juga mengembalikan mimpi yang sempat terhenti.
Pembukaan MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Banyumas pun menghadirkan pesan bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang kurikulum dan ruang belajar. Lebih dari itu, pendidikan menjadi instrumen pemutus rantai ketertinggalan sosial, sekaligus ruang pemulihan bagi anak-anak yang sebelumnya nyaris kehilangan hak memperoleh masa depan yang lebih baik. Dengan semangat inklusivitas, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi rumah kedua yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melindungi dan menguatkan setiap peserta didiknya. (wpas)






Posting Komentar