![]() |
| Ilustrasi: Misteri Kematian Sutrimo: Dari Kampung Banyumas ke Pusaran Penyelidikan di Jakarta |
BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Kematian mendadak Sutrimo (42), warga Desa Wlahar, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, tak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga memunculkan rangkaian pertanyaan yang hingga kini belum terjawab. Pria yang disebut bekerja sebagai kepala rumah tangga (Karumga) di kediaman mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah itu meninggal di Jakarta dalam peristiwa yang kini masih diselidiki Polda Metro Jaya.
Di kampung halamannya, kabar wafatnya Sutrimo datang begitu tiba-tiba. Warga mengaku terkejut karena hanya beberapa jam sebelumnya korban masih sempat berkomunikasi dengan kerabat melalui video call WhatsApp. Menurut warga, saat itu Sutrimo tampak sehat bahkan sedang menikmati makan malam.
"Tak lama setelah video call, sekitar satu jam kemudian, justru muncul kabar bahwa beliau meninggal dunia," ujar Khusnul, warga Desa Wlahar.
Kesaksian itu menjadi salah satu potongan cerita yang memunculkan tanda tanya di tengah masyarakat. Terlebih, sepekan sebelum meninggal dunia, Sutrimo diketahui sempat pulang ke Banyumas untuk mudik sebelum akhirnya kembali ke Jakarta setelah mendapat panggilan pekerjaan.
Di balik kesehariannya, sosok Sutrimo justru dikenal tertutup. Pemerintah desa maupun warga mengaku nyaris tidak mengetahui aktivitas maupun tanggung jawabnya selama bekerja di ibu kota. Sekretaris Desa Wlahar, Abas Supriyadi, mengatakan almarhum jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar sehingga profesinya baru diketahui setelah namanya ramai diberitakan.
"Kami hanya mendapat kabar jenazah dipulangkan pada Kamis malam dan langsung dimakamkan. Setelah itu baru muncul berbagai pemberitaan," katanya.
Seiring berkembangnya informasi, beredar pula berbagai isu di ruang publik, mulai dari dugaan penggunaan nama Sutrimo sebagai pemilik aset hingga spekulasi mengenai penyebab kematiannya. Namun, baik pemerintah desa maupun keluarga menegaskan tidak memiliki informasi yang dapat membenarkan kabar tersebut dan meminta masyarakat menunggu hasil penyelidikan resmi.
Keluarga juga mengungkapkan bahwa komunikasi terakhir berlangsung sangat biasa. Beberapa jam sebelum meninggal, Sutrimo hanya menanyakan kondisi anaknya melalui pesan WhatsApp kepada istrinya. Setelah menerima foto sang anak, percakapan terputus. Tak lama berselang, keluarga menerima kabar duka dengan penjelasan awal bahwa korban diduga mengalami "angin duduk". Menurut keluarga, Sutrimo tidak memiliki riwayat penyakit serius yang pernah dikeluhkan.
![]() |
| Ilustrasi |
Jenazah kemudian dipulangkan ke Banyumas dan dimakamkan pada malam hari. Keluarga juga mengakui menerima bantuan biaya pemakaman sekitar Rp20 juta, namun tidak mengetahui pihak yang memberikan bantuan tersebut.
Sementara itu, Polda Metro Jaya memastikan penyebab kematian Sutrimo belum dapat disimpulkan. Polisi masih mengumpulkan keterangan dari keluarga, pengemudi ambulans, tenaga medis, hingga pihak lain yang mengetahui peristiwa tersebut. Rekam medis korban, riwayat pemesanan ambulans, serta lokasi awal ditemukannya korban dalam kondisi tidak sadarkan diri di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, juga masih menjadi bagian dari pendalaman penyidik.
Bagi warga Desa Wlahar, kasus ini bukan sekadar kabar nasional yang menyeret nama salah seorang warganya. Mereka berharap penyelidikan berjalan transparan dan menghasilkan jawaban yang mampu mengakhiri spekulasi yang terus berkembang. Hingga saat itu tiba, kematian Sutrimo masih menyisakan ruang kosong antara fakta yang telah diketahui dan kebenaran yang masih dicari aparat penegak hukum. (wpas)





Posting Komentar