BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Prestasi sejati tidak hanya diukur dari piala yang dibawa pulang, tetapi juga dari sejauh mana kemenangan melahirkan rasa syukur, mempererat ukhuwah, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nilai itulah yang terasa kental saat keluarga besar Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, menggelar tasyakuran atas keberhasilan meraih Juara Umum Pekan Olahraga dan Seni Antar Diniyah (PORSADIN) IV Kecamatan Karanglewas Tahun 2026, Sabtu malam (25/7/2026), di kediaman Kepala Madrasah, Ust. Jamil.
Suasana berlangsung hangat, khidmat, sekaligus penuh haru. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. KH. Ibnu Asaddudin, para guru, pengurus madrasah, ofisial, atlet santri, wali santri, awak media, serta masyarakat yang selama ini menjadi bagian dari perjuangan Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor.
Tasyakuran diawali dengan pembacaan Surah Al-Fatihah, dilanjutkan tahlil yang dipimpin Gus Rahmat, kemudian doa bersama yang dipimpin Dr. KH. Ibnu Asaddudin. Rangkaian ibadah itu menjadi ungkapan syukur atas nikmat kemenangan sekaligus permohonan agar Allah SWT senantiasa membimbing langkah para santri menghadapi PORSADIN Tingkat Kabupaten Banyumas yang dijadwalkan berlangsung pada 6 September 2026.
Bagi keluarga besar madrasah, keberhasilan menjadi juara umum bukanlah garis akhir, melainkan amanah yang harus dijaga dengan terus meningkatkan kualitas pembinaan, disiplin, dan spiritualitas para santri.
Kepala Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor, Ust. Jamil, menyampaikan apresiasi kepada seluruh atlet santri, guru, tenaga kependidikan, pengurus, ofisial, wali santri, masyarakat, dan seluruh pihak yang telah memberikan doa serta dukungan selama proses persiapan hingga pertandingan.
"Alhamdulillah, capaian Juara Umum ini adalah amanah yang harus dijaga. Mari kita tambah semangat berjuang menghadapi PORSADIN tingkat Kabupaten Banyumas. Semoga Allah SWT memberikan hasil terbaik," ujarnya.
Malam tasyakuran semakin hidup ketika Dr. KH. Ibnu Asaddudin memberikan motivasi dengan pendekatan yang berbeda. Sosok yang juga dikenal sebagai vokalis Ban Jorna Bae (BJB) itu mengajak para santri merenungi makna perjuangan melalui empat lagu inspiratif.
Lagu Panggung Sandiwara menjadi pengingat bahwa kehidupan merupakan panggung tempat manusia mempertanggungjawabkan setiap amal dan perjuangannya. Doa, karya Rhoma Irama, mengajarkan bahwa setiap ikhtiar harus selalu disempurnakan dengan munajat kepada Allah SWT. Buih Jadi Permadani dimaknai sebagai simbol bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih kemuliaan apabila dijalani dengan kesungguhan dan pertolongan Allah. Sementara Merayu Tuhan mengajak seluruh santri untuk terus menjaga kerendahan hati serta menggantungkan harapan hanya kepada Sang Pencipta.
"Prestasi bukan akhir perjuangan, tetapi awal untuk terus belajar, berikhtiar, dan mendekat kepada Allah SWT," pesan KH. Ibnu Asaddudin yang disambut antusias para santri.
Pesan spiritual malam itu semakin diperdalam oleh Gus Rahmat melalui analogi yang diambil dari ilmu nahwu. Menurutnya, kehidupan manusia dapat diibaratkan seperti unsur-unsur dalam tata bahasa Arab.
"Ada manusia yang ingin dikenang karena namanya (isim), ada yang terus bergerak dalam perjuangan (fi'il), dan ada yang tampak sederhana namun mampu mengubah makna kehidupan seperti huruf. Jadilah pribadi yang memberi manfaat, karena keberkahan bukan sekadar dikenal, tetapi mampu menghadirkan perubahan," tuturnya.
Bagi para santri, kemenangan di arena PORSADIN bukan hanya kebanggaan pribadi, melainkan amanah untuk membawa nama baik madrasah sekaligus menjaga akhlak sebagai pelajar diniyah.
Salah seorang atlet santri mengaku bersyukur atas keberhasilan yang diraih bersama rekan-rekannya.
"Kami sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Kepala Madrasah, seluruh guru, pembina, dan semua yang telah membimbing serta mendoakan kami. Semoga Allah SWT membalas semua kebaikan dan kami siap berjuang membawa nama baik Madrasah Al-Ittihaad 2 Pasir Lor di tingkat Kabupaten Banyumas," ungkapnya.
Acara kemudian ditutup dengan doa bersama dan makan malam dalam suasana kekeluargaan. Tidak ada kemewahan yang ditonjolkan. Yang hadir justru rasa syukur, kebersamaan, dan keyakinan bahwa setiap prestasi lahir dari perpaduan antara doa yang tulus, kerja keras yang sungguh-sungguh, keikhlasan dalam berjuang, serta pertolongan Allah SWT.
Malam tasyakuran itu pun menjadi penegasan bahwa pendidikan di madrasah tidak semata-mata mencetak santri yang berprestasi di arena kompetisi, tetapi juga membentuk pribadi yang menjadikan kemenangan sebagai jalan untuk semakin rendah hati, semakin dekat kepada Allah SWT, dan semakin bermanfaat bagi umat. (wpas)




Posting Komentar