BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Ketahanan pangan di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas II Purwokerto tidak berhenti pada urusan menanam dan memanen. Program tersebut diarahkan menjadi bagian dari strategi pembimbingan klien pemasyarakatan agar memiliki keterampilan, produktivitas, sekaligus pijakan ekonomi ketika kembali sepenuhnya ke tengah masyarakat.
Langkah itu ditandai dengan peresmian fasilitas ketahanan pangan dan peluncuran Katalog Produk Klien Pemasyarakatan di Kantor Bapas Kelas II Purwokerto, Jumat (14/8/2026). Peresmian dipimpin Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pemasyarakatan Jawa Tengah, Mardi, bertepatan dengan agenda pisah sambut Kepala Bapas Purwokerto dari Nasirudin kepada Unggul Sumekto.
Fasilitas yang diresmikan meliputi Green House Melon Petravani berkapasitas 90 tanaman hidroponik serta budidaya ikan lele sistem bioflok dengan kapasitas 3.000 bibit per kolam. Green house tersebut merupakan bantuan Inspektur Jenderal Polisi Mashudi selaku Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan.
Kepala Bapas Purwokerto yang baru, Unggul Sumekto, menegaskan program tersebut akan dilanjutkan dan dikembangkan. Menurut dia, keterbatasan karakteristik Bapas yang tidak memiliki narapidana asimilasi kerja seperti lembaga pemasyarakatan bukan alasan untuk absen dari agenda ketahanan pangan nasional.
“Kami sudah menyaksikan langsung penaburan bibit bioflok lele dan penanaman melon hidroponik. Insya Allah sekitar dua bulan lagi kita akan panen. Walaupun di Bapas tidak ada narapidana asimilasi kerja seperti di Lapas, kami tetap berkomitmen penuh melaksanakan instruksi Bapak Presiden dan Bapak Menteri Imipas dalam mendukung ketahanan pangan,” ujar Unggul.
![]() |
| Kepala Bapas Purwokerto yang baru, Unggul Sumekto. |
Orientasi program bahkan akan diperluas. Bapas Purwokerto berencana mengoptimalkan lahan-lahan nonproduktif di sekitar wilayah kerja untuk budidaya komoditas sederhana namun memiliki nilai ekonomi, seperti cabai dan tanaman hortikultura lainnya.
Di titik inilah program ketahanan pangan ditempatkan dalam konteks yang lebih strategis: bukan sekadar produksi pangan, tetapi sarana pembentukan kompetensi dan kemandirian klien pemasyarakatan.
Unggul menekankan bahwa keberlanjutan program membutuhkan kolaborasi. Keterbatasan sumber daya Bapas akan diimbangi melalui penguatan kemitraan dengan Kelompok Masyarakat Peduli Pemasyarakatan (Pokmas Lipas), termasuk optimalisasi Griya Abhipraya di Kota Lama Banyumas.
Sementara itu, Kepala Bapas Purwokerto sebelumnya, Nasirudin, menilai posisi Bapas semakin strategis seiring transformasi hukum pidana nasional. Pembimbingan pidana bersyarat, pidana pengawasan, pidana kerja sosial hingga pembebasan bersyarat menempatkan Bapas bukan sekadar institusi administratif, tetapi sebagai salah satu simpul penting proses reintegrasi sosial.
Selama sekitar tiga bulan memimpin Bapas Purwokerto, Nasirudin melihat potensi besar yang dapat dikembangkan melalui jejaring kemitraan dengan pemerintah daerah, sektor swasta, insan pers dan masyarakat.
![]() |
| Kepala Bapas Purwokerto sebelumnya, Nasirudin. |
Salah satu hasil kolaborasi tersebut adalah pemanfaatan lahan untuk produksi minyak serai serta berbagai pelatihan kemandirian di Griya Abhipraya. Program itu kemudian diperkuat melalui peluncuran Buku Katalog Produk Klien Pemasyarakatan.
Katalog tersebut menjadi instrumen penting untuk membawa hasil pembinaan keluar dari lingkungan pemasyarakatan dan masuk ke pasar yang lebih luas. Produk yang ditampilkan antara lain gula semut, olahan minyak serai, serta jasa dan produk perbengkelan sepeda motor.
“Harapannya, katalog ini menjadi sarana promosi yang efektif untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat, khususnya di Kabupaten Banyumas dan wilayah kerja Bapas Purwokerto pada umumnya,” kata Nasirudin.
Bagi klien pemasyarakatan, persoalannya bukan hanya bagaimana memperoleh keterampilan, tetapi bagaimana keterampilan itu memiliki nilai ekonomi setelah mereka kembali ke masyarakat. Karena itu, akses terhadap pasar menjadi mata rantai yang sama pentingnya dengan pelatihan.
Ketua Pokmas Lipas Jawa Tengah, H. Djoko Susanto, S.H., menilai pergantian kepemimpinan di Bapas Purwokerto harus menjadi momentum memperkuat ekosistem pembinaan tersebut.
Ia berharap kepemimpinan Unggul Sumekto mampu memperluas sinergi antara Bapas dan Pokmas Lipas dalam meningkatkan kapasitas serta kemandirian klien pemasyarakatan.
“Sinergitas ini sangat penting untuk meningkatkan kapasitas dan kemandirian para klien. Dengan pembekalan keterampilan dan wadah pemasaran yang baik, para klien pemasyarakatan dapat kembali ke masyarakat dengan penuh percaya diri dan taraf kehidupan yang lebih baik,” ujar Djoko, yang juga Ketua DPC Peradi SAI Purwokerto.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembinaan pemasyarakatan tidak semata dilihat dari berapa banyak program yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa jauh program tersebut mampu mengubah ketergantungan menjadi kemandirian.
Di Bapas Purwokerto, melon hidroponik, lele bioflok, minyak serai, gula semut hingga produk perbengkelan sedang diarahkan menjadi lebih dari sekadar hasil pembinaan. Ia menjadi modal sosial dan ekonomi agar klien pemasyarakatan memiliki alasan yang lebih kuat untuk menatap masa depan tanpa kembali pada lingkaran pelanggaran hukum. (wpas)






Posting Komentar