BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Setelah menempuh panjangnya jalur hukum, menyampaikan persoalan kepada lembaga pengawas, hingga membawa aspirasi ke parlemen, puluhan nasabah Bank Mandiri Taspen Purwokerto memilih berhenti sejenak untuk menundukkan kepala.
Senin pagi, 24 Agustus 2026, Klinik Hukum PERADI SAI Purwokerto berubah menjadi ruang refleksi. Di tempat yang biasanya dipenuhi diskusi hukum dan strategi perkara itu, para nasabah berkumpul dalam istighozah, Maulid Nabi Muhammad SAW, serta doa bersama.
Bukan berarti perjuangan hukum berakhir. Justru sebaliknya. Doa ditempatkan sebagai bagian lain dari ikhtiar, ketika proses yang mereka tempuh belum menemukan titik akhir.
"Segala upaya sudah kita lakukan. Jalur darat sudah melalui OJK Pusat, jalur laut sudah dilakukan sampai ke DPR RI, sekarang saatnya kita minta jalur langit," kata Kuasa Hukum para nasabah, Advokat H Djoko Susanto SH, di hadapan peserta.
Kalimat itu menjadi metafora perjalanan panjang para nasabah dalam memperjuangkan persoalan kredit yang mereka persoalkan. Jalur administratif, hukum, kelembagaan dan politik telah mereka coba. Kini, di tengah ketidakpastian penyelesaian, mereka mencari kekuatan dari ruang spiritual.
Bukan Menyerah, Melainkan Menguatkan Diri
Bagi Djoko, doa bersama bukan tanda bahwa para nasabah menyerah. Doa justru diperlukan untuk menjaga energi perjuangan agar tidak habis digerus panjangnya proses.
Ia meminta para nasabah mempertahankan keyakinan terhadap tujuan yang sedang diperjuangkan.
"Mari kita doa bersama agar apa yang menjadi tujuan kita dikabulkan. Yakinlah ketika Tuhan akan mengabulkan, maka yakinlah. Sugesti itu penting. Yang penting yakin," ujarnya.
Kemudian muncul sebuah pertanyaan sederhana yang justru menjadi salah satu momen paling kuat pagi itu.
"Bapak ibu yakin bahwa kreditnya akan dibatalkan?"
"Yakiiin!"
Jawaban serempak itu menggema di ruangan.
Di balik satu kata tersebut terdapat keresahan, penantian, dan harapan para nasabah yang mengaku terdampak persoalan kredit. Bagi mereka, persoalan tersebut tidak berhenti pada angka dalam dokumen perbankan.
Ia menyentuh penghasilan, kebutuhan rumah tangga, ketenangan keluarga, dan masa depan.
Karena itu, perjuangan mereka bukan hanya perkara bagaimana sebuah persoalan administratif atau hukum diselesaikan. Ada dimensi manusiawi yang ikut dipertaruhkan.
Ketika Angka Berubah Menjadi Beban Kehidupan
Polemik kredit Bank Mandiri Taspen Purwokerto sebelumnya telah berkembang ke berbagai jalur penyelesaian. Para nasabah mempersoalkan sejumlah transaksi dan mekanisme kredit yang menurut mereka menimbulkan kerugian.
Proses hukum pun berjalan. Namun panjangnya proses membuat kebutuhan untuk saling menguatkan menjadi semakin penting.
Klinik Hukum PERADI SAI Purwokerto pada pagi itu akhirnya bukan sekadar tempat konsultasi hukum. Ia menjadi ruang tempat hukum dan spiritualitas bertemu.
Para nasabah datang bukan hanya untuk mendengar perkembangan perkara, tetapi juga memperoleh penyuluhan hukum dari Ahli Hukum Pidana Universitas Jenderal Soedirman, Dr Budiyono SH MHum.
Sementara rangkaian doa dipimpin Kyai Nurokhman, pengasuh pondok pesantren di Karangpucung. Puluhan nasabah hadir bersama sejumlah awak media dan Ketua Forum Banyumas Eling.
Pertemuan tersebut memperlihatkan satu realitas penting dalam perkara yang panjang: ketika proses hukum membutuhkan waktu, solidaritas menjadi salah satu modal untuk bertahan.
Kyai Nurokhman: Setiap Ujian Ada Akhirnya
Dalam tausiyahnya, Kyai Nurokhman mengajak para nasabah untuk tidak kehilangan kesabaran. Ia berharap silaturahmi tersebut menjadi pintu bagi penyelesaian polemik.
"Semoga dengan hikmah silaturahim ini, segera Allah membuka hati orang-orang yang punya kepentingan menyudahi polemik Mandiri Taspen ini," katanya.
Ia juga mendoakan Djoko Susanto agar tetap memiliki kesabaran dan kekuatan dalam mendampingi para nasabah.
"Kuncinya sabar. Untuk Pak Djoko semoga selalu diberi kesabaran. Saya yakin ini sedang diuji. Yang namanya ujian, ada akhirnya," ujarnya.
Menurut Nurokhman, perjuangan membela kepentingan para nasabah harus dilihat sebagai bagian dari upaya mencari kebenaran.
"Saya kenal sepak terjang Pak Djoko selama ini, membela kebenaran, bukan membela uang," katanya.
Nabi Ayub dan Pelajaran tentang Bertahan
Pesan tentang kesabaran kemudian dibawa Nurokhman pada kisah Nabi Ayub AS.
Ia mengingatkan bagaimana Nabi Ayub menghadapi kehilangan harta dan berbagai cobaan berat, tetapi tetap mempertahankan keyakinannya kepada Allah SWT.
Kisah tersebut menjadi cermin bagi para nasabah agar tidak menjadikan beratnya persoalan sebagai alasan untuk kehilangan harapan.
"Allah tidak akan menguji hambanya di luar kemampuan. Maka sabar, konsentrasi dan ikhlas adalah kunci. Setiap hambanya pasti akan diuji, sama seperti panjenengan sedang diuji dengan Mandiri Taspen," tuturnya.
Ia kemudian mengutip firman Allah SWT:
"Fa inna ma'al-'usri yusra, inna ma'al-'usri yusra."
Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.
"Yakin mawon, insyaallah selesai masalahnya," kata Nurokhman.
Dari Meja Hukum ke Jalur Langit
Pagi itu tidak ada putusan hakim. Tidak ada kesepakatan baru. Tidak pula ada pengumuman bahwa polemik telah selesai.
Yang ada adalah puluhan orang yang memilih duduk bersama, membaca selawat, berdoa, mendengarkan nasihat agama, dan kemudian kembali menguatkan tekad.
Di satu sisi, persoalan tetap harus diselesaikan melalui mekanisme hukum dan kelembagaan yang berlaku. Di sisi lain, manusia yang berada di dalam pusaran perkara membutuhkan sesuatu yang tidak selalu dapat diberikan oleh dokumen hukum: ketenangan untuk bertahan.
Di situlah doa memperoleh maknanya.
Bukan sebagai pengganti proses hukum, melainkan sebagai penyangga batin bagi mereka yang sedang menjalani proses tersebut.
Para nasabah masih memiliki pertanyaan yang belum seluruhnya terjawab. Mereka masih menunggu penyelesaian atas persoalan kredit yang mereka persoalkan. Mereka masih berharap adanya jalan keluar yang memberikan kepastian dan keadilan.
Namun pagi itu mereka setidaknya menemukan satu hal yang tidak tercatat dalam berkas perkara: keyakinan untuk tidak menyerah.
"Yakiiin!" menjadi jawaban yang terdengar sederhana, tetapi memiliki makna panjang.
Sebab setelah jalur hukum, administratif dan kelembagaan ditempuh, mereka kini mencoba menjaga satu jalur terakhir—jalur langit.
Dan perjuangan itu, bagi mereka, belum selesai. (wpas)







Posting Komentar