74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Setahun PESTOL: Saat Perbedaan Tak Lagi Menjadi Sekat, Melainkan Energi Persaudaraan


BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Ketika ruang publik kerap dipenuhi polarisasi akibat perbedaan organisasi, kepentingan, hingga pilihan politik, Komunitas PESTOL (Pemuda Stok Lama) justru menawarkan narasi yang berlawanan. Di usia pertamanya, komunitas ini menegaskan bahwa persaudaraan tidak mengenal sekat identitas, dan keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan sosial yang harus dirawat bersama.


Pesan tersebut mengemuka dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) pertama PESTOL yang berlangsung di Level Up Bar & Resto Purwokerto, Rabu (22/7/2026), sejak pukul 13.00 hingga 19.00 WIB. Lebih dari sekadar peringatan hari jadi, acara itu menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat yang selama ini berasal dari latar belakang organisasi, komunitas, paguyuban, hingga afiliasi politik yang beragam.


Momentum tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan tidak harus melahirkan jarak sosial. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka mampu menjadi fondasi terciptanya stabilitas dan kondusivitas di Banyumas Raya.


Wakil Ketua PESTOL, Elco Ajitosa, menegaskan bahwa semangat utama komunitas ini adalah menjaga persaudaraan tanpa memandang identitas maupun atribut organisasi.


"Harapan saya untuk masyarakat Banyumas, meskipun berbeda suku maupun ormas, mari bersama-sama menjaga situasi yang kondusif. Seduluran Selawase harus menjadi semangat kita. Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Kalau ada persoalan antarkelompok, mari diselesaikan secara damai dan baik-baik," ujarnya.


Pernyataan tersebut menjadi penegasan bahwa keamanan daerah bukan semata lahir dari penegakan hukum, tetapi juga dari kedewasaan masyarakat dalam mengelola perbedaan melalui dialog dan musyawarah.


Penggagas PESTOL yang juga Komandan MMC Guard Indonesia, Agung Buwono, menegaskan bahwa komunitas yang dibangunnya bukanlah organisasi kemasyarakatan ataupun lembaga swadaya masyarakat. PESTOL berdiri sebagai wadah silaturahmi yang mengedepankan persaudaraan, kebersamaan, dan kepedulian sosial.


Menurutnya, sebagian besar anggota merupakan sosok-sosok yang telah matang dalam pengalaman hidup. Meski disibukkan tanggung jawab sebagai kepala keluarga maupun profesi masing-masing, mereka tetap menyisihkan waktu untuk menjaga hubungan antarsesama.


"PESTOL menjadi tempat kita berkumpul, saling menyapa, bercanda, sekaligus membawa misi sosial. Yang paling penting, kami ingin memberi teladan kepada generasi muda. Kalau orang-orang tua dengan baju ormas yang berbeda saja bisa duduk bersama dan rukun, tentu anak-anak muda juga bisa melakukan hal yang sama," katanya.


Pesan moral tersebut menjadi identitas PESTOL. Di tengah meningkatnya sensitivitas terhadap perbedaan identitas, komunitas ini justru memilih membangun ruang komunikasi yang inklusif, cair, dan mengedepankan rasa saling menghormati.


Perayaan HUT pertama PESTOL dihadiri berbagai tokoh lintas organisasi dan elemen masyarakat. Hadir Ketua MPC Pemuda Pancasila Banyumas Bung Yudo Iteng, Ketua DPC GRIB Jaya Banyumas Anto Begog, Ketua DPC LSM Harimau Gus Mujab, perwakilan Banser, Squad Nusantara, Lowo Ireng, serta sejumlah komunitas lainnya. Turut hadir Ketua DPRD Banyumas Agus Nova, dr. Tangguh, tokoh masyarakat, dan insan pers dari berbagai media.


Salah satu capaian yang menjadi perhatian adalah jumlah anggota PESTOL yang tepat mencapai 365 orang pada usia satu tahun. Angka tersebut dipilih sebagai simbol perjalanan komunitas yang hidup dan bergerak sepanjang hari dalam setahun. Keanggotaannya pun telah berkembang melampaui Banyumas, mencakup Cilacap, Purbalingga, Boyolali, hingga Tasikmalaya.


Memasuki tahun kedua, PESTOL berkomitmen memperkuat perannya sebagai komunitas yang mengusung nilai toleransi, persaudaraan, dan kepedulian sosial. Orientasinya bukan sekadar menjadi tempat berkumpul, melainkan menghadirkan contoh bahwa harmoni dapat dibangun melalui dialog, saling menghargai, dan kesediaan menempatkan kepentingan bersama di atas ego kelompok.


Di tengah masyarakat yang semakin majemuk, kehadiran PESTOL membawa pesan sederhana namun bernilai strategis: kedamaian tidak pernah lahir dari keseragaman. Ia tumbuh dari kemampuan menerima perbedaan sebagai kekuatan bersama. Semangat itulah yang terus mereka gaungkan dalam semboyan yang kini menjadi identitas komunitas, "Seduluran Selawase." (wpas)

0

Posting Komentar