74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Arah Kiblat Jadi Simbol Toleransi Lintas Iman di Puhua School


BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Arah kiblat bukan sekadar garis penunjuk salat. Di Puhua School Purwokerto, garis itu justru menjadi simbol bagaimana keberagaman iman dapat bertemu dalam ruang kemanusiaan, kepedulian, dan gotong royong.


Pesan itu terlihat saat Tim SAFAC Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas melakukan pengukuran arah kiblat Mushola SD-SMP-SMA Puhua School atau Sekolah 3 Bahasa Putera Harapan, Selasa (18/8/2026).


Pengukuran dilakukan menggunakan metode astronomis/falakiyah untuk memastikan ketepatan arah salat. Setelah arah ditentukan, tanda kiblat dan garis shaf dipasang secara permanen di lantai mushola sebagai pedoman bagi warga sekolah.


Yang menarik, proses tersebut turut dibantu Paul Gratis Waybin, S.Pd., staf pendidik SD Putra Harapan 3 Bahasa yang beragama Katolik. Ia membantu pemasangan garis shaf sesuai hasil pengukuran Tim SAFAC Kemenag Banyumas.


«“Perbedaan keyakinan bukan penghalang untuk saling membantu. Kita dapat hidup berdampingan, saling menghormati, dan saling mendukung dalam kebaikan,” ujar Paul.»


Keterlibatan tersebut menjadi potret sederhana, tetapi kuat, tentang moderasi beragama. Toleransi tidak berhenti pada slogan atau wacana, melainkan hadir dalam tindakan ketika seseorang bersedia membantu pemeluk agama lain menjalankan kebutuhan ibadahnya.


Ketua PD IPARI Banyumas, Lubab Habiburrohman, menilai praktik kebersamaan di Puhua School menjadi contoh konkret moderasi beragama di lingkungan pendidikan yang plural.


“Moderasi beragama bukan hanya sebuah konsep, tetapi harus diwujudkan dalam sikap saling menghormati, saling mendukung, dan bergotong royong dalam kebaikan,” tegasnya.


Sementara itu, Haryanto, S.H. dari Tim SAFAC Kemenag Banyumas menjelaskan, pengukuran astronomis dilakukan untuk memperoleh arah kiblat yang tepat sekaligus memberikan acuan permanen bagi warga sekolah dalam pelaksanaan salat berjamaah.


Ia mengapresiasi keterlibatan Paul sebagai bagian dari semangat gotong royong lintas iman.


“Perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk bekerja sama dan saling menghormati. Inilah semangat moderasi beragama yang perlu terus dirawat,” katanya.


Pemasangan arah kiblat tersebut sekaligus menegaskan komitmen Puhua School membangun lingkungan pendidikan yang menghargai keberagaman. Fasilitas ibadah disiapkan dengan memperhatikan ketepatan teknis, sementara kehidupan bersama dibangun di atas penghormatan terhadap keyakinan masing-masing.


Sebab, dari sebuah garis yang mengarah ke kiblat, lahir pesan yang melampaui soal arah: berbeda keyakinan tidak berarti berbeda dalam kemanusiaan. Ketika perbedaan dipertemukan oleh rasa hormat dan kepedulian, keberagaman berubah menjadi kekuatan untuk merawat kerukunan. (wpas)

0

Posting Komentar