74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

IJTABA Muslimat NU Banyumas, Wadah Baru Pengabdian Perempuan Nahdliyin


Tak ada kemegahan yang lebih indah daripada hati-hati yang berkumpul karena Allah.

BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Ahad pagi (12/7/2026), Pendopo Si Panji Purwokerto berubah menjadi ruang spiritual yang dipenuhi lantunan ayat suci Al-Qur'an, gema selawat, dan bisik doa. Ribuan perempuan Muslimat Nahdlatul Ulama duduk bersimpuh di atas hamparan karpet, larut dalam kekhusyukan yang menghadirkan suasana teduh di tengah hiruk-pikuk kehidupan.


Mereka datang dari 17 Pengurus Anak Cabang Muslimat NU se-Kabupaten Banyumas. Ada yang menempuh perjalanan sejak subuh, ada yang membawa semangat dari desa-desa, dan semuanya hadir dengan tujuan yang sama: mempererat ukhuwah serta menguatkan ikhtiar pengabdian kepada umat.


Momentum itu menjadi saksi lahirnya Ikatan Jam'iyyah 17 Anak Cabang Muslimat NU (IJTABA) Kabupaten Banyumas Masa Khidmat 2026–2031.


Suasana semakin syahdu ketika Siti Zaenuroh, S.Ag. bersama Sumiyem, S.Pd. melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dan selawat. Bibir para jemaah ikut bergerak lirih mengikuti bacaan, sementara sebagian lainnya menundukkan kepala, menengadahkan tangan, memohon agar setiap langkah organisasi baru ini mendapat ridha Allah SWT.


Khidmat keagamaan kemudian berpadu dengan semangat kebangsaan. Indonesia Raya, Mars Muslimat NU, dan Mars Syubbanul Wathan berkumandang serempak. Di ruang itu, cinta kepada agama dan Tanah Air menyatu tanpa sekat, menjadi napas perjuangan yang telah lama hidup dalam tradisi Nahdlatul Ulama.


Prosesi pengukuhan yang dipimpin perwakilan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Firman Nurhidayat, S.H., berlangsung penuh kekhusyukan. Satu per satu pengurus mengucapkan ikrar, bukan sekadar menerima amanah organisasi, melainkan meneguhkan janji untuk melayani umat dengan keikhlasan.


Nama IJTABA dipilih bukan tanpa makna. Terinspirasi dari Surah An-Nahl ayat 121 yang menggambarkan Nabi Ibrahim AS sebagai hamba pilihan Allah, nama itu menjadi doa agar organisasi ini melahirkan pribadi-pribadi pilihan yang istiqamah menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah melalui kerja nyata, bukan sekadar slogan.


Di tengah rangkaian acara, terselip kabar yang menghangatkan hati. Gerakan jariah sosial Muslimat NU Banyumas berhasil menghimpun dana lebih dari Rp5 miliar. Bukan sekadar angka, tetapi simbol besarnya kepedulian yang tumbuh dari gotong royong ribuan anggota.


Kontribusi terbesar datang dari PAC Muslimat NU Cilongok di bawah kepemimpinan Nyai Ani Mufarrih yang berhasil menghimpun lebih dari Rp893 juta melalui gerakan bersama di 20 anak ranting. Dana tersebut disiapkan untuk berbagai program sosial, kemanusiaan, dan kemaslahatan masyarakat.


Bagi Ketua IJTABA, Hj. Nurul Bahiyah, setiap amal sekecil apa pun memiliki nilai di hadapan Allah SWT.


"Apapun yang Ibu perjuangkan, dilihat setetes maupun dua tetes, insyaallah Allah SWT akan melihat dan mencatat perjuangan kita," tuturnya dengan suara bergetar.


Pesan itu seakan menemukan penguat dalam tausiyah Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Iman Pasir Wetan, Gus Mohammad Luqman. Dengan bahasa sederhana, ia mengajak seluruh kader menjaga kejernihan hati.


"Ketika dunia ini sedang tidak baik-baik saja, maka jagalah kewarasan Anda. Tetaplah menjadi susu yang murni yang selalu memberikan manfaat kepada siapa pun."


Bagi Gus Luqman, kemurnian niat adalah benteng utama agar organisasi tetap hidup, sehat, dan mampu menjawab tantangan zaman.


Sentuhan keibuan terasa semakin kuat saat Nyai Hj. Sumanah Hisyam, Pengasuh Putri Pondok Pesantren At-Taujieh Al-Islamy Leler, menyampaikan nasihatnya. Ia mengingatkan bahwa perempuan bukan hanya pendamping keluarga, melainkan madrasah pertama yang menentukan arah masa depan bangsa.


"Jadilah Muslimat yang terus menyehatkan, mencerdaskan, hebat, berdampak, bermanfaat, dan tetap istiqamah. Karena ibu adalah madrasah bagi generasi penerus yang bertakwa, cerdas, terampil, berakhlak mulia, taat aturan, dan guyub rukun," pesannya.


Kalimat-kalimat itu disambut anggukan para jemaah. Sebagian tampak mengusap air mata, seolah menemukan kembali makna perjuangan yang selama ini mereka jalani dalam diam.


Menjelang penutupan, seluruh hadirin kembali menengadahkan tangan. Doa dipanjatkan bersama, memohon agar langkah IJTABA menjadi jalan hadirnya keberkahan bagi masyarakat Banyumas.


Di balik berdirinya organisasi baru ini, sesungguhnya sedang tumbuh sebuah harapan: bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar, tetapi juga dari tangan yang gemar berbagi, hati yang ikhlas melayani, serta perempuan-perempuan yang memilih menjadikan hidupnya sebagai jalan pengabdian.


Dari Pendopo Si Panji pagi itu, ribuan Muslimat NU pulang membawa amanah yang sama. Bukan hanya menjadi bagian dari sebuah organisasi, melainkan menjadi penjaga nilai, penebar kasih sayang, dan penguat ikatan kemanusiaan yang berakar pada iman.


Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah gerakan bukan diukur dari seberapa besar organisasi itu berdiri, melainkan dari seberapa luas manfaat yang mampu ditebarkannya kepada sesama. (wpas)

Posting Komentar

Posting Komentar