BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Alam seolah telah menghadiahkan pemandangan terbaiknya di Grumbul Kradenan Wetan, Desa Banteran, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas. Dari ketinggian jalur alternatif penghubung Banyumas-Purbalingga itu, siluet Gunung Slamet berdiri gagah pada pagi hari, sementara gemerlap lampu Kota Purwokerto menghadirkan panorama memikat ketika malam menyapa.
Namun di balik keindahan yang memanjakan mata tersebut, tersimpan persoalan yang selama bertahun-tahun belum terselesaikan: jalan rusak dan minim penerangan.
Kontras antara potensi dan kenyataan itu menjadikan ruas jalan kabupaten tersebut seperti sebuah ironi. Jalur yang semestinya dapat menjadi akses strategis sekaligus titik panorama unggulan di kawasan utara Banyumas, justru identik dengan lubang, permukaan jalan yang rusak, serta kondisi gelap gulita saat malam hari.
Bagi masyarakat sekitar, persoalan itu bukan cerita baru.
Tri Riwayati (60), warga setempat, mengatakan kerusakan jalan sudah lama menjadi keluhan warga karena berdampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Menurutnya, situasi menjadi lebih mengkhawatirkan ketika malam tiba.
"Kalau malam hari lebih mengkhawatirkan karena selain jalannya rusak juga sangat gelap. Warga jadi takut kalau harus lewat sini," ujar Tri, Selasa (16/6/2026).
Keluhan tersebut bukan semata soal kenyamanan, melainkan menyangkut aspek keselamatan. Ketiadaan penerangan jalan umum membuat pengguna jalan harus mengandalkan cahaya kendaraan di tengah kondisi permukaan yang tidak rata dan dipenuhi lubang.
Padahal, keberadaan jalur tersebut memiliki fungsi penting sebagai akses alternatif yang menghubungkan Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Purbalingga. Dibandingkan jalur utama, ruas jalan itu mampu memangkas waktu tempuh dan menjadi pilihan banyak warga yang bekerja maupun beraktivitas lintas wilayah.
Adam Putra (41), salah satunya.
Setiap hari ia melintasi jalan tersebut untuk bekerja di wilayah Purbalingga. Kerusakan yang tak kunjung tertangani membuat harapan sederhana para pengguna jalan mengerucut pada satu hal: perbaikan.
"Setiap hari saya lewat sini untuk bekerja. Harapannya tentu segera diperbaiki agar lebih aman dan nyaman dilalui," katanya.
Jalan Strategis yang Kehilangan Perhatian
Dalam perspektif pembangunan wilayah, keberadaan jalan bukan sekadar infrastruktur fisik, melainkan urat nadi yang menentukan kelancaran mobilitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Ketika jalan rusak berlangsung dalam waktu lama, dampaknya merembet pada meningkatnya biaya transportasi, risiko kecelakaan, hingga berkurangnya kualitas pelayanan publik.
Lebih dari itu, kondisi di Desa Banteran memperlihatkan bagaimana potensi kawasan belum sepenuhnya diimbangi dengan kualitas infrastruktur.
Di beberapa titik, panorama Gunung Slamet terbentang tanpa halangan ketika cuaca cerah. Saat malam, kerlap-kerlip lampu Purwokerto dari kejauhan menciptakan lanskap yang tidak kalah menarik dibandingkan sejumlah kawasan wisata dataran tinggi.
Potensi visual tersebut sejatinya dapat menjadi nilai tambah yang mampu mengangkat kawasan sekitar. Namun selama akses jalannya masih rusak, pesona alam itu seakan hanya menjadi "bonus" yang sulit dinikmati secara optimal.
Menunggu APBD Perubahan
Pemerintah Kabupaten Banyumas mengakui kondisi ruas jalan tersebut membutuhkan penanganan. Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Banyumas, Kresnawan Wahyu Kristoyo, S.T., M.Si., mengatakan lokasi tersebut telah disurvei dan masuk dalam rencana perbaikan.
"Itu jalan sudah kami survei dan programkan untuk perbaikan. Tapi kita menunggu APBD Perubahan, mudah-mudahan tersedia anggarannya," kata Kresnawan.
Menurutnya, karakteristik kerusakan di lokasi tersebut mengharuskan penggunaan aspal hotmix agar kualitas jalan lebih tahan lama.
"Karena itu harus dengan aspal hotmix. Kalau dengan aspal lapen tidak bertahan lama kalau melihat kondisi lokasinya," jelasnya.
Pernyataan tersebut memberi secercah harapan bagi warga yang selama ini menunggu kepastian. Namun, harapan itu masih bergantung pada kemampuan fiskal daerah melalui APBD Perubahan.
Antara Panorama dan Infrastruktur
Kisah jalan di Desa Banteran menggambarkan satu kenyataan yang kerap ditemui di berbagai daerah: alam telah menyediakan daya tarik, tetapi infrastruktur belum selalu mampu mengimbanginya.
Di tengah semangat pembangunan yang terus digaungkan, masyarakat berharap perhatian pemerintah tidak hanya terfokus pada pusat-pusat pertumbuhan, melainkan juga menjangkau jalur-jalur penghubung yang menjadi denyut aktivitas warga sehari-hari.
Sebab, keindahan Gunung Slamet dan panorama malam Purwokerto tidak akan banyak berarti apabila masyarakat yang melintasinya masih harus mempertaruhkan keselamatan di atas jalan yang rusak dan gelap.
Jika kelak perbaikan benar-benar terealisasi, ruas jalan di Grumbul Kradenan Wetan bukan hanya menjadi penghubung antara Banyumas dan Purbalingga, melainkan dapat menjelma sebagai salah satu koridor dengan panorama terbaik di kawasan utara Banyumas—tempat di mana keindahan alam dan kualitas infrastruktur akhirnya berjalan beriringan. (wpas)







Posting Komentar