74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

517 Mahasiswa UIN Saizu Turun ke Desa, Banyumas Dorong KKN Berbasis Pemberdayaan Berkelanjutan


 

BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Kuliah Kerja Nyata (KKN) tak lagi diposisikan sebagai sekadar agenda akademik yang berakhir dengan laporan dan penilaian. Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama Universitas Islam Negeri (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (Saizu) Purwokerto mendorong transformasi KKN menjadi ruang kolaborasi yang mampu melahirkan dampak nyata bagi masyarakat desa.


Komitmen tersebut mengemuka saat Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, secara resmi menerima 517 mahasiswa KKN UIN Saizu di Pendopo Wakil Bupati Banyumas, Kamis (16/7). Selama 40 hari, para mahasiswa akan mengabdi di sejumlah desa di wilayah Kecamatan Tambak, Sumpiuh, dan Somagede dengan membawa misi pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.


Dalam arahannya, Lintarti mengingatkan bahwa esensi KKN bukan hanya menjalankan program kerja, melainkan membangun relasi, memahami kehidupan masyarakat, dan belajar langsung dari realitas sosial yang tidak ditemui di ruang kuliah.


"Di tengah masyarakat nanti, mahasiswa akan menemukan beragam pengalaman, tantangan, sekaligus pelajaran hidup yang membentuk cara pandang dan karakter kepemimpinan," ujarnya.


Ia menegaskan, mahasiswa harus hadir dengan semangat belajar, bukan semata-mata datang membawa agenda kegiatan. Menurutnya, keberhasilan KKN justru ditentukan oleh kemampuan mahasiswa membangun komunikasi, mendengarkan aspirasi warga, serta menghadirkan solusi yang lahir dari kebutuhan masyarakat sendiri.


Lintarti menilai kehadiran mahasiswa dapat menjadi energi baru bagi desa melalui gagasan kreatif, inovasi, dan pendampingan terhadap berbagai potensi lokal. Sebaliknya, mahasiswa juga akan memperoleh pelajaran berharga dari budaya gotong royong, nilai-nilai sosial, dan kearifan lokal yang masih hidup di tengah masyarakat Banyumas.


Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika, nama baik almamater, serta menjalin hubungan harmonis dengan pemerintah desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh warga.


"Keberhasilan KKN bukan diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi dari kepercayaan dan kedekatan yang berhasil dibangun bersama masyarakat," tegasnya.


Sementara itu, Kepala Pusat Kajian Budaya Lokal dan Penginyongan UIN Saizu, Rahman Afandi, menjelaskan bahwa pelaksanaan KKN tahun ini mengusung paradigma baru yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, bukan lagi sekadar objek pelaksanaan program.


Menurutnya, pendekatan lama sering menghasilkan kegiatan yang berhenti ketika mahasiswa selesai menjalankan KKN. Kini, mahasiswa didorong melakukan pemetaan potensi desa, kemudian bersama masyarakat mengembangkan potensi tersebut agar mampu memberikan manfaat jangka panjang.


"Dengan paradigma baru, kami berharap program yang dirintis mahasiswa tetap berjalan setelah mereka kembali ke kampus karena telah menjadi milik masyarakat," jelas Rahman.


Pelaksanaan KKN tahun ini mengangkat tema "UIN Saizu Memberdaya, Menguatkan Umat, Menghijaukan Desa, dan Menggerakkan Ekonomi Masyarakat." Tema tersebut menjadi refleksi arah baru pengabdian perguruan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pada penguatan kapasitas masyarakat, pelestarian lingkungan, dan pembangunan ekonomi berbasis potensi lokal.


Transformasi paradigma ini menunjukkan bahwa KKN tidak lagi dipandang sebagai program seremonial tahunan. Lebih dari itu, KKN menjadi laboratorium sosial yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat, sekaligus membentuk lulusan yang adaptif, peka terhadap persoalan sosial, serta mampu menghadirkan perubahan yang berkelanjutan di tengah kehidupan desa. (wpas)

0

Posting Komentar