BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Langit malam yang selama ini hanya dipandang sebagian orang sebagai hamparan bintang, justru menjadi ruang mimpi bagi Yugo Deandra Wirayudha. Alumni SMA Negeri 1 Purwokerto itu kini bersiap membawa Merah Putih ke panggung internasional setelah terpilih sebagai satu dari lima delegasi Indonesia pada International Olympiad on Astronomy and Astrophysics (IOAA) 2026 di Hanoi, Vietnam, September mendatang.
Pencapaian tersebut bukan hasil yang lahir secara instan. Di balik tiket menuju ajang astronomi paling bergengsi bagi pelajar dunia itu, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari tingkat kabupaten, berlanjut ke provinsi, hingga berujung medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN).
Keberhasilan di tingkat nasional mengantarkan Yugo mengikuti Pelatihan Nasional bersama 30 siswa terbaik Indonesia. Seleksi berlapis dan pembinaan selama berbulan-bulan akhirnya menempatkan namanya di antara lima putra terbaik bangsa yang dipercaya mewakili Indonesia.
Bagi Kepala SMA Negeri 1 Purwokerto, Tjaraka Tjunduk Karsadi, keberhasilan tersebut merupakan buah dari budaya prestasi yang selama ini tumbuh di sekolah.
“Sebelumnya kita punya Jafar yang maju di bidang Fisika sampai ke Kanada. Apa yang diraih Yugo sekarang adalah posisi puncak dari banyak prestasi siswa kami,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).
Sekolah, kata Tjaraka, memberikan dukungan penuh melalui dispensasi kegiatan belajar dan fasilitasi pelatihan intensif, baik secara daring maupun luring, agar para siswa dapat fokus mempersiapkan diri menghadapi kompetisi tingkat dunia.
Strategi yang Mengubah Arah
Menariknya, astronomi bukanlah pilihan pertama Yugo. Saat duduk di kelas 10, ia justru lebih tertarik pada fisika. Namun persaingan yang sangat ketat membuatnya mengambil keputusan berbeda. Ia memilih astronomi, cabang ilmu yang relatif lebih sedikit peminatnya, tetapi memiliki keterkaitan kuat dengan fisika dan matematika.
Keputusan yang semula bersifat strategis itu ternyata menjadi titik balik penting.
Inspirasi datang dari seniornya, Edgar, peraih medali perunggu OSN Astronomi 2023.
“Saya melihat kesuksesan Mas Edgar dan berpikir, aku juga harus bisa. Saya ingin menantang diri sendiri,” kenang Yugo.
Sejak saat itu, astronomi bukan lagi sekadar pilihan kompetisi. Ia menjelma menjadi passion. Waktu-waktu luangnya dipenuhi dengan membaca jurnal dan literatur digital tentang supernova, lubang hitam, pulsar, hingga evolusi galaksi.
Di tengah kesibukan mengikuti Pelatnas, Yugo juga berhasil lolos Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dan diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung (ITB). Putra pasangan ayah yang berwirausaha dan ibu rumah tangga itu menatap masa depan sebagai peneliti.
Mimpi yang Dibawa ke Langit Dunia
Bagi Yugo, tampil di Vietnam bukan sekadar mengikuti kompetisi internasional. Ada misi yang lebih besar, yakni membawa pulang prestasi untuk Indonesia.
“Target saya bisa membawa pulang medali untuk Indonesia. Entah perunggu, perak, atau emas. Itu sudah menjadi kebanggaan luar biasa,” katanya.
Kisah Yugo menunjukkan bahwa prestasi tidak selalu lahir dari jalan yang paling ramai. Kadang, keberanian memilih jalur berbeda, dipadukan dengan ketekunan dan rasa ingin tahu yang tak pernah padam, justru membawa seseorang menuju puncak.
Kini, dari kaki Gunung Slamet di Baturraden menuju Hanoi, Yugo Deandra Wirayudha tidak hanya membawa nama SMA Negeri 1 Purwokerto atau Kabupaten Banyumas. Ia membawa harapan Indonesia untuk kembali bersinar di bawah langit astronomi dunia.
Di tengah era yang serba instan, perjalanan Yugo menjadi pengingat bahwa mimpi besar tetap membutuhkan strategi, disiplin, dan kesediaan untuk terus belajar. Sebab, sebagaimana bintang yang terlihat terang dari kejauhan, keberhasilan sesungguhnya lahir dari proses panjang yang kerap tak terlihat oleh banyak orang. (wpas)




Posting Komentar