![]() |
| Ilustrasi: Apa Kabar Nilai Pancasila Hari Ini |
Nilai-Nilai Pancasila, Apa Kabarmu Hari Ini?
Oleh: Kang Riswo Mulyadi
Pertanyaan itu menggantung di udara senja, tepat ketika esok upacara bersiap digelar di seantero negeri. Sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar retoris, namun memiliki daya ketuk yang kuat terhadap kesadaran kita: Nilai-nilai Pancasila, apa kabarmu hari ini?
Jika lima sila itu dapat menjawab, mungkin suaranya terdengar parau. Mereka tampaknya tidak sedang baik-baik saja di tengah kepungan zaman yang serba cepat, pragmatis, dan kerap transaksional. Di satu sisi, mereka diagungkan dalam berbagai forum resmi. Di sisi lain, mereka sering kali terasing dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Mari kita mengetuk pintu kamar mereka satu per satu, sekadar untuk menanyakan kabar di senja menjelang 1 Juni ini.
Sila Pertama dan Kedua: Menanyakan Rasa Kemanusiaan
Di bilik Ketuhanan dan Kemanusiaan, kabarnya masih dipenuhi riuh rendah ruang digital. Agama dan keyakinan kerap ditarik ke panggung politik praktis, dijadikan sekat alih-alih perekat. Sementara itu, kemanusiaan yang adil dan beradab sering diuji oleh minimnya empati ketika jemari lebih cepat mengetik cacian daripada merajut persaudaraan.
Namun kabar baiknya, nilai-nilai itu tak pernah benar-benar mati. Ia masih hidup di gang-gang sempit pedesaan, ketika seseorang tanpa pamrih menjaga rumah tetangganya yang sedang beribadah, atau ketika solidaritas spontan lahir saat bencana mengetuk pintu saudara-saudara kita di pelosok negeri.
Sila Ketiga: Persatuan di Tengah Polarisasi
Bagaimana kabarmu, Persatuan Indonesia?
Sila ketiga mungkin yang paling lelah. Ia dipaksa berdiri tegak di tengah gempuran algoritma media sosial yang sering kali mendorong masyarakat masuk ke dalam kotak-kotak polarisasi.
Persatuan kita hari ini kerap rapuh karena lebih suka mencari perbedaan di sela-sela persamaan daripada merayakan keberagaman sebagai kekayaan bersama.
Ia seperti berbisik kepada kita: persatuan bukan berarti penyeragaman, melainkan kemampuan untuk tetap duduk bersama dalam satu meja meski warna kaos dan pilihan berbeda.
Sila Keempat: Musyawarah yang Kerap Kalah oleh Angka
Di ruang Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan, kabarnya agak memprihatinkan. Musyawarah untuk mufakat kini sering kalah mentereng dibanding voting atau adu kuantitas angka. Kebijaksanaan acap kali tergeser oleh kepiawaian bersilat lidah dan kecerdikan memanipulasi aturan.
Demokrasi kita sedang ditantang untuk kembali pada khitahnya: mendengar suara yang paling lirih dari pinggiran, bukan sekadar mendengarkan teriakan yang paling nyaring dari pusat kekuasaan.
Sila Kelima: Menanti Keadilan yang Membumi
Terakhir, kita mengetuk pintu Keadilan Sosial.
Sila kelima mungkin menjadi sila yang paling panjang menghela napas. Kabarnya hari ini adalah kabar tentang ketimpangan yang masih menganga. Tentang ruang kelas di pelosok yang atapnya bocor, guru-guru honorer yang tetap setia mengabdi meski penghasilannya terbatas, hingga hukum yang kadang masih terasa tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Keadilan sosial masih menjadi janji yang terus ditagih oleh realitas. Ia merupakan pekerjaan rumah terbesar bangsa ini yang belum selesai bahkan setelah delapan dekade perjalanan kemerdekaan.
Merawat Kabar Baik
Lalu, apa kabar Pancasila hari ini?
Jawabannya bergantung pada di mana kita mencarinya.
Jika kita mencarinya di gedung-gedung megah atau pidato-pidato politik, mungkin yang ditemukan hanyalah abunya—formalitas yang dingin dan seremonial. Namun jika mencarinya di sela-sela kehidupan rakyat kecil, kita akan menemukan apinya yang masih menyala.
Pancasila hadir dalam ketulusan secangkir kopi yang dibagikan kepada tetangga yang ronda malam. Ia hidup dalam keringat para pendidik yang tak lelah menyalakan pelita ilmu. Ia tumbuh dalam semangat sambatan dan gotong royong warga desa yang tak terlalu peduli pada hiruk-pikuk politik ibu kota.
Pancasila hari ini sedang mengetuk pintu hati kita masing-masing. Kabarnya ditentukan oleh laku hidup kita setelah upacara dibubarkan. Apakah kita akan membiarkannya layu sebagai teks, atau menghidupkannya sebagai kompas moral yang nyata?
Karang Anjog, 31 Mei 2026
Riswo Mulyadi, adalah guru MI Ma’arif NU 1 Cilangkap yang gemar membaca, menulis, dan mengamati berbagai fenomena sosial. Sehari-hari ia disibukkan dengan aktivitas mengajar dan mendidik, serta menekuni kegemarannya menikmati kopi dan menulis puisi. Ia tinggal di Karang Anjog, Cihonje Gumelar, Indonesia.






Posting Komentar