74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Teknologi Mengubah Wajah Media, Verifikasi Menjaga Martabat Pers


BERSWARANEWS.Com, Purwokerto - Transformasi digital mengubah cara media bekerja sekaligus menguji kembali peran pers dalam menjaga kualitas demokrasi. Kecepatan teknologi, algoritma, hingga kecerdasan buatan (AI) kini berhadapan langsung dengan tuntutan akurasi, verifikasi, dan independensi jurnalistik.


Persoalan itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Sekretariat DPRD Provinsi Jawa Tengah bersama Ketua Komisi C DPRD Jawa Tengah Bambang Haryanto Bachrudin (BHB) di Aula Kelurahan Purwokerto Lor, Kecamatan Purwokerto Timur, Kamis (17/9/2026).


FGD bertema “Demokrasi di Era Digital dan Tantangan bagi Pekerja Media” tersebut mempertemukan wartawan Banyumas Raya dari media cetak, online, radio, dan televisi. Peserta berasal antara lain dari PWI, AJI, IJTI, dan PRRSNI.


Bambang menekankan pentingnya hubungan konstruktif antara media dan legislatif. Menurut dia, media memiliki peran strategis dalam menyampaikan kebijakan publik dan proses pembangunan kepada masyarakat secara objektif.


“Harapannya, kolaborasi dan objektivitas media dapat menjadi partner kerja yang saling melengkapi dengan legislatif sebagai lembaga yang membuat kebijakan bersama eksekutif di Provinsi Jawa Tengah,” kata Bambang.


Ketua PWI Banyumas Lilik Darmawan menguraikan perubahan pola kerja wartawan akibat digitalisasi. Teknologi telah menggeser bukan hanya cara berita diproduksi dan didistribusikan, tetapi juga cara publik menemukan dan mengonsumsi informasi.


Pemerhati media Yon Daryono memperluas pembahasan ke perkembangan AI dan algoritma. Menurut dia, media kini tidak lagi sekadar beradaptasi dari pola konvensional ke digital, tetapi memasuki ekosistem baru yang ditentukan teknologi, data, AI, dan algoritma.


“Sekarang kita memasuki era AI dan algoritma. Perubahan ini harus diikuti oleh media massa jika ingin tetap memiliki peran dalam membangun demokrasi yang baik,” ujar Yon.


Di tengah kecepatan distribusi informasi, tantangan media justru semakin kompleks. Informasi yang belum terverifikasi, disinformasi, misinformasi, hingga konten berbasis AI dapat beredar lebih cepat daripada proses pemeriksaan fakta.


Karena itu, teknologi tidak menghapus kebutuhan terhadap wartawan. Sebaliknya, semakin cepat mesin menghasilkan informasi, semakin penting kerja jurnalistik memastikan fakta, konteks, dan akurasinya.


Ketua IJTI Korda Banyumas Saladin Ayubi yang menjadi moderator menilai FGD tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan pekerja media dengan legislatif, sekaligus membuka pertukaran pandangan mengenai tantangan demokrasi di era digital.


“Forum seperti ini penting untuk saling memberi masukan bagi pembangunan di Jawa Tengah,” ujar Saladin.


FGD tersebut menegaskan satu persoalan mendasar, yakni transformasi teknologi mungkin mengubah wajah media, tetapi kualitas demokrasi tetap bergantung pada bagaimana informasi diproduksi, diverifikasi, dan dipertanggungjawabkan kepada publik. (wpas)

Posting Komentar

Posting Komentar