74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Kemarau Panjang, Rutan Banyumas Gelar Salat Istisqa: Mengetuk Pintu Rahmat Allah


BERSWARANEWS.Com, Banyumas - Ketika sumber air mulai menyusut dan tanah mengering, warga binaan dan petugas Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Banyumas memilih mengetuk pintu pertolongan Allah SWT melalui Salat Istisqa, Jumat (18/9/2026).


Salat Istisqa digelar sebagai ikhtiar bersama untuk memohon turunnya hujan di tengah kemarau panjang yang mulai berdampak pada ketersediaan sumber air. Warga binaan, pegawai, serta mahasiswa magang Rutan Banyumas mengikuti ibadah tersebut dengan khidmat.


Lebih dari sekadar ritual memohon hujan, Salat Istisqa menjadi ruang muhasabah. Para peserta diajak menyadari keterbatasan manusia, memperbanyak istigfar, bertaubat, dan kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Kepala Rutan Banyumas mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa merupakan ikhtiar bersama menghadapi kondisi kemarau sekaligus momentum memperkuat ketakwaan.


“Melalui Salat Istisqa ini, kami mengajak seluruh warga binaan, pegawai, dan mahasiswa magang untuk bersama-sama berdoa dan memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. Selain itu, kegiatan ini menjadi momentum bagi kita semua untuk melakukan introspeksi diri, memperbanyak istigfar, dan meningkatkan ketakwaan,” ujar Karutan Banyumas.


Dalam khutbahnya, Ustadz Sufyan, S.Pd., mengingatkan jamaah bahwa air merupakan salah satu nikmat Allah SWT yang kerap dianggap biasa, padahal menjadi sumber utama kehidupan. Kemarau panjang yang mengurangi ketersediaan air menjadi momentum untuk bermuhasabah, memperbanyak istigfar, bertaubat, dan menyadari keterbatasan manusia di hadapan kekuasaan Allah SWT.


Pesan tersebut diperkuat dengan kandungan QS Nuh ayat 10–11 tentang ajakan memperbanyak istigfar yang dikaitkan dengan turunnya hujan dan keberkahan. Melalui Salat Istisqa, jamaah diajak tidak hanya memohon hujan, tetapi juga memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.


Fenomena alam, menurut pesan khutbah tersebut, juga dapat menjadi bahan muhasabah. Kemarau mengingatkan manusia bahwa berbagai kemampuan dan teknologi yang dimiliki tetap memiliki batas. Di hadapan kekuasaan Allah SWT atas alam, manusia adalah makhluk yang memiliki keterbatasan.


Ustadz Sufyan kemudian menyampaikan kandungan QS Nuh ayat 10–11 mengenai ajakan Nabi Nuh AS kepada kaumnya untuk memohon ampun kepada Allah SWT. Dalam ayat tersebut, istigfar dikaitkan dengan turunnya hujan yang membawa keberkahan.


Pesan itu diperkuat dengan hadis Nabi Muhammad SAW mengenai keutamaan memperbanyak istigfar sebagai salah satu amalan yang mengandung harapan datangnya pertolongan, keberkahan, dan rezeki dari Allah SWT.


Dengan demikian, Salat Istisqa di Rutan Banyumas tidak berhenti pada permohonan agar hujan segera turun. Ibadah tersebut menjadi pengingat spiritual agar manusia memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, menyadari nikmat yang selama ini diterima, serta memperbanyak doa dan istigfar ketika menghadapi keterbatasan.


Di tengah kemarau yang menguji ketersediaan air, para peserta diajak melihat hujan bukan semata sebagai fenomena alam, melainkan sebagai rahmat yang dinantikan. Ikhtiar manusia berjalan melalui pengelolaan sumber daya, sementara doa menjadi jalan untuk memohon pertolongan kepada Sang Pemilik segala sesuatu. (wpas)

Posting Komentar

Posting Komentar