![]() |
| Ilustrasi |
BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Di sebuah ruang perawatan Rumah Sakit Anikmah Wangon, Sri Rohwi, pensiunan warga Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas, tengah berjuang menghadapi kondisi kesehatan yang terus menurun.
Di saat yang sama, keluarganya masih dibayangi persoalan kredit yang disebut berkaitan dengan Mandiri Taspen. Sri Rohwi disebut sebagai salah satu dari 147 pensiunan yang terdampak persoalan tersebut.
Keluarga menyebut persoalan keuangan itu menambah beban psikologis Sri Rohwi yang sebelumnya telah mengalami gangguan kesehatan sejak beberapa tahun terakhir.
Anak Sri Rohwi, Bima Marhadika, mengatakan kondisi kesehatan ayahnya mulai mengalami penurunan sejak 2023. Gejala stroke mulai muncul dan secara perlahan memengaruhi kondisi fisiknya.
Namun, beberapa hari terakhir menjadi fase yang lebih berat.
Sejak 11 Agustus 2026, Sri Rohwi mengalami mual dan muntah berulang. Keluarga kemudian membawanya ke rumah sakit setelah kondisinya semakin melemah. Bima menyebut muntahan yang keluar berwarna hitam.
“Masih sadar, tetapi kalau diajak bicara sudah tidak jelas,” ujar Bima melalui sambungan telepon.
Sri Rohwi kini menjalani perawatan intensif. Tubuhnya disebut semakin lemah, sementara kemampuan berkomunikasinya mengalami penurunan.
Beban Kesehatan dan Persoalan Keuangan
Bagi keluarga, kondisi tersebut tidak berdiri sendiri. Mereka melihat ada tekanan psikologis yang kemungkinan ikut membebani Sri Rohwi, terutama setelah mengetahui persoalan yang menimpa sejumlah pensiunan terkait kredit Mandiri Taspen.
Menurut Bima, ayahnya sebelumnya mengajukan dana sekitar Rp200 juta. Kemudian terdapat pengajuan tambahan sekitar Rp50 juta sehingga total pengajuan mencapai sekitar Rp250 juta.
Namun, dana yang disebut diterima Sri Rohwi hanya sekitar Rp150 juta.
Perbedaan antara nilai pengajuan dan dana yang diterima itulah yang menurut keluarga menjadi bagian dari persoalan yang hingga kini belum sepenuhnya mendapatkan kejelasan.
“Sejak tahu ada kasus seperti itu, mungkin tambah kepikiran, sehingga kondisinya semakin drop,” kata Bima.
Keterangan keluarga tersebut merupakan versi pihak keluarga dan masih memerlukan klarifikasi serta verifikasi dari pihak Mandiri Taspen maupun pihak-pihak terkait.
Persoalan ini menjadi semakin sensitif karena menyangkut pensiunan—kelompok masyarakat yang secara ekonomi semestinya memasuki fase kehidupan dengan kepastian pendapatan dan ketenangan setelah puluhan tahun bekerja.
Ketika persoalan administrasi, kredit atau pencairan dana justru hadir bersamaan dengan persoalan kesehatan, dampaknya tidak lagi sebatas angka dalam dokumen keuangan. Ia dapat merembet menjadi tekanan psikologis dan beban keluarga.
Berita sebelumnya: Rp140 Juta, Keringat Seorang Ibu, dan Pertanyaan yang Tak Sempat Terjawab
Setelah Umiati, Kini Sri Rohwi
Kisah Sri Rohwi muncul beberapa hari setelah kabar duka dari Purbalingga.
Umiati, pensiunan warga Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, yang juga disebut sebagai nasabah terdampak persoalan Mandiri Taspen, meninggal dunia pada 1 Agustus 2026 setelah mengalami sakit.
Kini, keluarga Sri Rohwi menghadapi kecemasan serupa.
Keluarga tidak hanya berharap kondisi kesehatannya membaik, tetapi juga meminta persoalan yang dialaminya memperoleh kejelasan. Bagi mereka, penyelesaian persoalan kredit bukan sekadar persoalan administratif, melainkan bagian dari upaya mengembalikan rasa aman kepada pensiunan yang telah memasuki usia lanjut.
Sri Rohwi tercatat sebagai warga RT 01/RW 02 Desa Pesawahan, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas.
Di tengah perawatan medis yang sedang dijalani, satu hal menjadi harapan keluarga: kesehatan Sri Rohwi segera pulih dan persoalan yang membebaninya mendapatkan penyelesaian yang terang.
Sebab bagi seorang pensiunan yang tubuhnya telah melemah, ketidakpastian bukan sekadar persoalan angka. Ia dapat berubah menjadi beban pikiran yang ikut menggerus ketenangan di sisa masa pengabdian hidup. (wpas)





Posting Komentar