BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Di tengah derasnya arus digital dan budaya populer yang kian mendominasi kehidupan generasi muda, Pemerintah Kabupaten Banyumas memilih menoleh ke akar tradisi. Melalui workshop bertajuk "Tradisi Petungan Jawa: Dari Kelahiran Sampai Kematian" yang digelar di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kamis (9/7/2026), ruang dialog dibuka untuk menghidupkan kembali salah satu warisan intelektual masyarakat Jawa yang selama ini lebih sering dipahami sebatas mitos: petungan Jawa.
Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa petungan Jawa tidak dapat dipandang hanya sebagai hitungan hari baik atau buruk. Di balik sistem tersebut tersimpan cara pandang masyarakat Jawa dalam memahami perjalanan hidup manusia, hubungan dengan alam, serta nilai-nilai kebijaksanaan yang diwariskan lintas generasi.
"Petungan Jawa bukan sekadar hitung-hitungan. Di dalamnya terdapat filosofi dan cara para leluhur memaknai kehidupan manusia. Forum seperti ini menjadi ruang penting untuk berbagi pengetahuan sekaligus mendokumentasikan warisan budaya agar tidak terputus oleh zaman," ujar Sadewo saat membuka kegiatan.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui pertunjukan seni atau seremoni. Pengetahuan tradisional juga perlu dirawat melalui diskusi akademik dan ruang belajar yang mampu menjembatani generasi tua dengan generasi muda.
Ia berharap workshop tersebut menjadi wadah pembelajaran bersama sehingga pengetahuan yang selama ini hidup dalam tradisi lisan dapat terus diwariskan secara lebih sistematis.
Sadewo juga menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Banyumas untuk membangun daerah secara inklusif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat, termasuk para penghayat kepercayaan yang selama ini turut menjaga keberlangsungan tradisi dan nilai-nilai budaya lokal.
Petungan Jawa sendiri merupakan sistem pengetahuan berbasis kalender tradisional yang menggabungkan hari Masehi dengan lima hari pasaran Jawa—Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon—melalui konsep neptu. Kombinasi angka tersebut digunakan sebagai pedoman untuk membaca karakter seseorang, menentukan waktu yang dianggap baik dalam berbagai peristiwa kehidupan, hingga menjadi pertimbangan dalam pernikahan maupun aktivitas sosial lainnya.
Bagi masyarakat Jawa, sistem ini bukan semata praktik spiritual, melainkan refleksi dari cara manusia menyelaraskan kehidupannya dengan ritme alam dan keseimbangan semesta.
Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari, mengatakan workshop tersebut diselenggarakan sebagai ikhtiar melestarikan pengetahuan leluhur yang mulai tergerus perubahan zaman.
Menurutnya, semakin banyak generasi muda yang mengenal zodiak atau horoskop modern, tetapi justru tidak memahami makna weton seperti Senin Pahing, Jumat Wage, maupun kombinasi hari pasaran lainnya yang selama berabad-abad menjadi bagian dari identitas budaya Jawa.
"Ketika seseorang lahir, dalam tradisi Jawa diyakini membawa petungan tertentu yang menjadi pedoman dalam berbagai aspek kehidupan. Ini merupakan kearifan lokal yang perlu dipahami agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman," ujar Feby.
Ia menilai, pelestarian petungan Jawa bukan bertujuan mengajak masyarakat mempercayai setiap unsur tradisi secara mutlak, melainkan mengenalkan sistem pengetahuan lokal yang mencerminkan kecerdasan budaya masyarakat Nusantara dalam membaca kehidupan.
Workshop tersebut menghadirkan para sesepuh dan akademisi untuk mengupas petungan Jawa dari berbagai perspektif. Hadir sebagai narasumber Ki Samino dari Paguyuban Wayah Kaki, Agung Prabowo dari Universitas Jenderal Soedirman, serta Ki Prayit dari Paguyuban Kawruh Rasa Sejati.
Diskusi yang berlangsung memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus diposisikan sebagai lawan modernitas. Sebaliknya, warisan budaya dapat menjadi sumber pengetahuan yang terus dikaji, didokumentasikan, dan dipahami secara kritis agar tetap relevan bagi generasi masa kini.
Di Banyumas, upaya merawat petungan Jawa menjadi pengingat bahwa identitas budaya tidak hanya tersimpan dalam bangunan bersejarah atau kesenian tradisional, tetapi juga hidup dalam cara masyarakat memaknai waktu, kelahiran, perjalanan hidup, hingga hubungan manusia dengan alam. Tradisi yang terus dipahami dan diwariskan itulah yang menjadi fondasi keberlanjutan kebudayaan di tengah perubahan zaman. (wpas)







Posting Komentar