BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Transformasi pendidikan tidak hanya ditentukan oleh perubahan kurikulum, tetapi juga oleh kemampuan guru untuk terus bertumbuh. Kesadaran itulah yang menjadi pijakan SMP Negeri 1 Baturraden, Kabupaten Banyumas, saat menggelar In House Training (IHT) pada 14–18 Juli 2026 sebagai ikhtiar memperkuat profesionalisme pendidik sekaligus menyiapkan pembelajaran yang lebih bermakna di tahun ajaran baru.
Kegiatan yang berlangsung di aula sekolah tersebut diikuti seluruh guru dan tenaga kependidikan. Sejumlah narasumber berkompeten dihadirkan, di antaranya Assoc. Prof. Santhy Hawanti, Ph.D, dosen Program Magister FKIP Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas Widodo Sugiri, ST, serta pengawas SMP.
IHT tidak sekadar menjadi agenda rutin peningkatan kapasitas guru. Forum ini dirancang sebagai ruang refleksi sekaligus laboratorium gagasan untuk menjawab tantangan pendidikan yang terus berkembang. Materi yang diberikan meliputi review Kurikulum Standar Pendidikan, penyusunan Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), hingga penguatan perangkat pembelajaran berbasis Deep Learning guna menghadirkan proses belajar yang lebih mendalam, kontekstual, dan bermakna bagi peserta didik.
Kepala SMP Negeri 1 Baturraden, Tri Agus Hariyatno, S.Pd, menegaskan bahwa perubahan zaman menuntut guru tidak berhenti belajar. Menurutnya, profesionalisme pendidik harus terus diperbarui agar mampu memberikan layanan pendidikan yang relevan dengan kebutuhan generasi masa depan.
"Melalui kegiatan ini diharapkan tercipta budaya belajar dan berbagi praktik baik di lingkungan sekolah dengan semangat baru," ujarnya.
Ia menambahkan, IHT merupakan investasi penting bagi sekolah untuk membangun budaya kolaboratif di antara para guru. Dengan saling berbagi pengalaman, berdiskusi, dan mempraktikkan strategi pembelajaran terbaru, kualitas proses belajar di kelas diharapkan meningkat secara nyata.
Sepanjang pelaksanaan, suasana pelatihan berlangsung dinamis. Para peserta aktif mengikuti diskusi, praktik penyusunan perangkat ajar, hingga bertukar pengalaman mengenai berbagai tantangan pembelajaran di lapangan. Pendekatan partisipatif tersebut menjadi ruang bagi guru untuk tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengembangkan solusi yang sesuai dengan karakteristik peserta didik.
Tri Agus berharap seluruh hasil pelatihan tidak berhenti sebagai dokumen administratif, melainkan benar-benar diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari sehingga berdampak pada peningkatan mutu pendidikan dan prestasi siswa.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Widodo Sugiri, ST, mengingatkan bahwa kompetensi akademik harus berjalan seiring dengan integritas moral seorang guru. Menurutnya, pendidik memiliki tanggung jawab besar sebagai figur teladan yang membentuk karakter generasi muda.
"Sebagai seorang pendidik, guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi teladan dalam sikap, perilaku, dan kedisiplinan," tegasnya.
Widodo juga menekankan bahwa keberhasilan sebuah pelatihan tidak diukur dari banyaknya materi yang diterima, melainkan dari sejauh mana ilmu tersebut diimplementasikan dalam praktik pembelajaran di sekolah. Karena itu, ia meminta seluruh peserta menjadikan hasil IHT sebagai pijakan untuk menghadirkan inovasi pembelajaran yang lebih efektif, kreatif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik.
Pelaksanaan IHT di SMP Negeri 1 Baturraden mencerminkan arah baru pendidikan yang menempatkan guru sebagai pembelajar sepanjang hayat. Di tengah tuntutan perubahan yang semakin cepat, peningkatan kapasitas pendidik menjadi fondasi utama dalam membangun sekolah yang adaptif, berintegritas, dan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter. (wpas)





Posting Komentar