BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Ketika malam mulai merambat di Perumahan Griya Satria Bantarsoka, Purwokerto Barat, suasana Masjid Baiturrohim justru dipenuhi denyut kepedulian. Bukan untuk sebuah seremoni, melainkan aksi nyata menyelamatkan sesama melalui donor darah yang digelar Takmir Masjid Baiturrohim bekerja sama dengan Unit Donor Darah PMI Kabupaten Banyumas, Selasa (30/6/2026) malam.
Sejak pukul 19.30 hingga 22.15 WIB, sebanyak 51 warga dari Bantarsoka dan sejumlah wilayah sekitar berdatangan. Mereka membawa satu niat sederhana namun bernilai besar: memberikan kesempatan hidup bagi orang lain. Dari jumlah tersebut, 36 orang berhasil mendonorkan darahnya, sementara 15 peserta lainnya belum dapat mendonor karena kondisi hemoglobin maupun tekanan darah yang belum memenuhi persyaratan medis.
Koordinator kegiatan, H. Bambang Margono yang juga Wakil Takmir Masjid Baiturrohim, menegaskan bahwa donor darah bukan sekadar agenda rutin, melainkan gerakan sosial yang menyatukan nilai kemanusiaan, kesehatan, dan ibadah.
"Setetes darah yang diberikan dapat menyelamatkan sesama. Semoga setiap pendonor mendapatkan kesehatan, keberkahan, dan pahala yang terus mengalir," ujarnya.
Di balik deretan kursi donor, tersimpan kisah-kisah yang memperlihatkan bahwa empati lahir dari kebiasaan. Safarudin, santri kalong Pondok Pesantren Bani Rosul Gubug Sekuping Bantarsoka, kembali mendonorkan darahnya untuk yang ke-35 kalinya. Meski baru pulang bekerja, ia tetap datang bersama sang istri yang juga mulai membiasakan diri menjadi pendonor.
"Donor darah sudah menjadi kebutuhan kami karena dapat membantu orang lain," tuturnya.
Tak hanya para pendonor berpengalaman, kegiatan itu juga menjadi ruang lahirnya semangat baru. Beberapa warga Griya Satria serta Yayan dari Pangebatan menjalani donor darah untuk pertama kalinya. Pemandangan keluarga yang datang bersama—ayah, ibu, hingga anak—menggambarkan bahwa kepedulian sosial dapat diwariskan sebagai budaya dalam keluarga.
PMI Kabupaten Banyumas bersama Takmir Masjid Baiturrohim menyampaikan apresiasi kepada seluruh peserta, termasuk mereka yang belum dapat mendonor karena alasan kesehatan. Kesediaan hadir dan menjalani pemeriksaan dinilai sebagai bentuk kepedulian yang sama berharganya.
Malam itu, Masjid Baiturrohim tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang bertemunya solidaritas. Sebanyak 36 kantong darah yang terkumpul menjadi simbol bahwa semangat gotong royong dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan, aksi sederhana seperti donor darah mengingatkan bahwa kemanusiaan tidak selalu diwujudkan melalui hal-hal besar. Terkadang, ia hadir dalam setetes darah yang mengalir dari satu lengan untuk memberi harapan hidup bagi orang lain yang bahkan tak pernah dikenal. (wpas)






Posting Komentar