BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Penutupan rangkaian Bulan Bung Karno VIII Tahun 2026 dimanfaatkan kader PDI Perjuangan sebagai momentum memperkuat konsolidasi ideologi sekaligus menghadirkan aksi nyata bagi masyarakat. Mengusung tema "Bersatu dalam Ideologi, Berjuang untuk Negeri", kegiatan digelar di Cafe Inyong, Purwokerto, sebelum dilanjutkan dengan aksi sosial berupa pembagian 50 paket sembako dan nasi dus kepada tukang becak serta tukang parkir di kawasan Klenteng pasar wage, Purwokerto.
Kegiatan tersebut dihadiri Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah Fraksi PDI Perjuangan, Asfirla Harisanto, SE, MM, bersama tokoh senior Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Jawa Tengah, Willem Tutuarima, yang memberikan refleksi sejarah perjalanan nasionalisme dan marhaenisme di Jawa Tengah.
Penutupan di Purwokerto menjadi bagian dari rangkaian nasional Bulan Bung Karno VIII 2026 yang sepanjang Juni mengangkat tema "Kawya Atma Kerthi" atau Meraya Jiwa Perjuangan Proklamator. Puncak peringatan nasional sebelumnya dipusatkan di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali, pada 28 Juni 2026 dan dihadiri Ketua Umum DPP PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri.
Dalam paparannya, Asfirla menegaskan bahwa Bung Karno bukan hanya milik PDI Perjuangan, melainkan milik seluruh bangsa Indonesia sebagai proklamator sekaligus peletak dasar negara.
Menurutnya, kemerdekaan politik yang diraih Indonesia belum sepenuhnya menghadirkan kemerdekaan bagi rakyat apabila praktik korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan ketidakadilan masih berlangsung.
"Pada zaman Bung Karno kita dijajah bangsa lain. Hari ini tantangan kita berbeda. Korupsi dan penyalahgunaan amanah publik adalah bentuk penjajahan terhadap rakyat sendiri. Masyarakat telah memenuhi kewajibannya membayar pajak, sehingga negara berkewajiban menghadirkan kesejahteraan," ujarnya.
Selain mengangkat nilai-nilai ideologis Bung Karno, Asfirla memperkenalkan gagasan pemberdayaan ekonomi desa melalui pengembangan pohon balsa (Ochroma pyramidale), komoditas bernilai ekonomi tinggi yang kayunya digunakan sebagai bahan industri aeromodelling, papan selancar hingga inti bilah turbin angin.
Ia menawarkan pola kemitraan kepada pemerintah desa dengan memanfaatkan lahan bengkok yang belum produktif. Bibit akan disediakan industri sehingga masyarakat tidak dibebani biaya awal, sementara masa panennya relatif singkat, sekitar dua hingga dua setengah tahun.
Menurut Asfirla, program tersebut tidak hanya membuka peluang ekonomi baru bagi desa, tetapi juga menjadi bagian dari strategi penghijauan yang memiliki manfaat ekologis sekaligus nilai komersial.
Ia menilai meningkatnya penebangan liar di sejumlah wilayah Banyumas yang memicu longsor harus dijawab melalui gerakan penanaman pohon yang mampu memberi keuntungan ekonomi kepada masyarakat sehingga pelestarian lingkungan berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan.
"Penghijauan tidak cukup hanya menanam pohon. Tanaman itu harus memberi manfaat ekonomi agar masyarakat memiliki kepentingan untuk merawatnya," katanya.
Di sela kegiatan, kader PDI Perjuangan juga menyalurkan bantuan sosial berupa 50 paket sembako dan nasi dus kepada pekerja sektor informal seperti tukang becak dan tukang parkir. Aksi tersebut disebut sebagai implementasi nilai gotong royong yang menjadi ruh perjuangan Bung Karno.
Sementara itu, Willem Tutuarima mengajak generasi muda memahami sejarah panjang perjuangan kaum nasionalis di Jawa Tengah. Menurutnya, Purwokerto memiliki posisi penting dalam perjalanan marhaenisme karena menjadi lokasi deklarasi asas marhaenisme bagi organisasi-organisasi underbow PNI pada 1963.
Ia mengenang dinamika politik sejak era Orde Baru ketika kekuatan nasionalis mengalami tekanan, termasuk lahirnya PDI hingga berbagai konflik internal yang, menurutnya, kerap dipengaruhi kepentingan eksternal.
Willem juga menceritakan keterlibatannya dalam konsolidasi PDI di Jawa Tengah pada pertengahan 1990-an, termasuk pengalaman menghadapi tekanan politik menjelang Pemilu 1997.
Pengalaman tersebut, katanya, menjadi pelajaran penting agar kader menjaga marwah partai, memperkuat soliditas organisasi, dan tetap menjadikan Pancasila sebagai fondasi perjuangan politik.
"Boleh berbeda pandangan, tetapi jangan pernah meninggalkan Pancasila dan semangat marhaenisme. Itulah perekat bangsa dari Sabang sampai Merauke," tegasnya.
Penutupan Bulan Bung Karno VIII di Purwokerto akhirnya tidak hanya menjadi seremoni mengenang sang proklamator, tetapi juga diposisikan sebagai ruang pendidikan politik, konsolidasi ideologi, pemberdayaan ekonomi masyarakat, serta penguatan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui gerakan penghijauan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat. (wpas)







Posting Komentar