BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Deretan piala dan trofi yang memenuhi ruang belajar sekaligus studio kecil di rumahnya di Karangrau, Sokaraja, menjadi saksi perjalanan panjang seorang Nurul Mujahidin. Namun bagi pria yang akrab disapa Abah Noor Emdjee itu, ukuran kesuksesan tak pernah berhenti pada banyaknya penghargaan atau gemerlap panggung yang pernah ia taklukkan.
Baginya, hidup yang berhasil adalah ketika seseorang mampu menggali potensi yang dimiliki, mengembangkannya menjadi karya, lalu menghadirkan manfaat bagi orang lain.
Prinsip itulah yang dijalani pria kelahiran Semarang, 22 Desember 1965 tersebut selama puluhan tahun.
"Semua bidang seni saya pelajari," ujar Noor Emdjee kepada berswaranews, Rabu (10/6/2026).
Sejak kecil, dunia seni sudah menjadi bagian dari hidupnya. Menulis puisi, melukis, membuat kerajinan tangan, bermain drama hingga bernyanyi pernah ia tekuni.
Saat duduk di bangku SMP, karya puisinya beberapa kali dimuat di Harian Suara Merdeka dan SKM. Ia juga kerap mewakili sekolah dalam Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) cabang melukis dan baca puisi, bahkan beberapa kali meraih juara.
Prestasi itu berlanjut hingga SMA. Dua tahun berturut-turut, Mas Noor keluar sebagai juara pertama lomba baca puisi antarpelajar SMA se-Kabupaten Rembang, yang dikenal sebagai Bumi Kartini.
Menemukan Jalan di Dunia Musik
Perkenalannya dengan dunia tarik suara dimulai melalui ajang Pop Singer yang diselenggarakan Radio Pemerintah Daerah (RSPD) Rembang. Meski saat itu hanya meraih juara harapan, bakatnya menarik perhatian salah seorang penyiar radio.
"Dari situ saya direkrut menjadi penyiar bantu di RSPD," kenangnya.
Popularitasnya perlahan tumbuh. Ia mulai sering tampil mengisi hajatan masyarakat dan acara seremonial yang digelar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rembang.
Namun kehidupan tak selalu berjalan lurus. Setelah lulus SMA, Mas Noor bekerja di Semarang dan untuk sementara meninggalkan dunia yang dicintainya.
"Kalau ada acara keluarga atau teman, paling hanya menyumbang lagu," katanya.
Kerinduan terhadap panggung kembali terobati saat bekerja di Bojonegoro, Jawa Timur, pada 1991. Mengikuti lomba karaoke, ia langsung meraih juara pertama. Pada kompetisi serupa di Kebumen, ia menyabet juara kedua.
Setahun kemudian, namanya semakin dikenal setelah menjadi juara pertama lomba yang digelar Radio Sumasli Purwokerto. Saat itu ia menerima trofi dari artis dangdut Cucu Cahyati.
Sejak itulah perjalanan panjang sebagai penyanyi festival dimulai.
"Kalau tidak juara satu, biasanya masih masuk lima besar," tuturnya sambil tersenyum.
Prestasi demi prestasi terus mengalir. Di antaranya:
- Juara II Gita Remaja Kabupaten Kebumen (1994);
- Juara I lomba menyanyi antarinstansi dan umum memperebutkan Trofi Tetap Walikotatif Purwokerto (1995);
- Juara II Indonesian Slow Rock Singing Contest DD Diskotek Purwokerto (1996);
- Juara II BRTV-RRI Purwokerto kategori hiburan pria dewasa (1996);
- Juara II Festival Karaoke Antarinstansi dan Umum RM Pringgading Purwokerto (2006);
- Juara II Festival Tembang Kenangan RM Maharani (2004);
- Juara I Lomba Nyanyi Tembang Doeloe RM Prambanan Purwokerto (2017);
- Juara III Tembang Kenangan Sambel Seblak Resto (2017);
- Juara I Lomba Nyanyi Solo KTK Harmoni (2018);
- Juara I Lomba Nyanyi Duet KTK Harmoni (2018);
- Juara III Singing Contest Lejar Studio (2019).
Jumlah trofi yang pernah ia kumpulkan bahkan mencapai lebih dari 50 buah.
"Sebagian sudah rusak atau pecah saat bersih-bersih," ujarnya.
Begitu sering menang, Noor Emdjee mengaku pernah "diboikot" panitia lomba.
"Saya tidak boleh ikut lagi karena dianggap terlalu sering juara," katanya sambil tertawa.
Sejak itu ia memilih fokus menjadi wedding singer dan pembawa acara di berbagai kota.
Vakum cukup lama dari dunia kompetisi, Noor Emdjee kembali tampil pada Mei 2026 dalam festival yang digelar di The Village Baturraden. Hasilnya, ia kembali naik podium sebagai juara pertama.
Mengajar Mengaji Tanpa Memungut Bayaran
Di sela aktivitas sebagai penyanyi, MC dan pemilik barber shop khusus pria di Jalan Mahesa RT 7 RW 3 Karangrau, Sokaraja, ia justru menemukan panggilan lain yang lebih menenangkan hati.
Selama hampir lima tahun terakhir, Noor Emdjee mengajar membaca Al-Qur'an secara offline maupun online.
Ia membentuk sejumlah grup WhatsApp yang menjadi ruang belajar bagi jamaah dari berbagai daerah. Materi yang diajarkan sederhana namun mendasar, yakni membaca Al-Qur'an dengan baik dan benar sesuai kaidah ilmu tajwid.
Menariknya, seluruh kegiatan tersebut dilakukan tanpa memungut biaya.
"Saya tidak pernah meminta bayaran atau bisyaroh. Yang penting mereka mau belajar dan punya semangat. Paling hanya harus punya kuota internet saja," ujarnya.
Dedikasi itu perlahan membuahkan hasil.
Banyak muridnya yang semula belum mampu membaca Al-Qur'an dengan fasih, kini sudah berani menjadi imam salat, memimpin doa dan membaca ayat-ayat suci dengan lebih baik.
Salah seorang murid yang merasa hidupnya berubah karena pembelajaran tersebut kemudian memberikan hadiah yang tak pernah dibayangkan Noor Emdjee sebelumnya.
Pria dermawan itu memberangkatkannya untuk menunaikan ibadah umrah secara gratis.
"Allah memberikan ganti atas lelah dan jerih payah saya. Saya diberangkatkan ke Tanah Suci oleh salah satu murid yang merasa terbantu selama belajar bersama," ungkapnya penuh syukur.
Mengisi Masa Pensiun dengan Manfaat
Selain aktif di Komunitas Tembang Kenangan Harmoni yang telah diikutinya selama 14 tahun, Mas Noor juga terlibat dalam kegiatan organisasi RT dan RW serta mengajar di Yayasan Pondok Pesantren Nurul Jadid Al-Masudiyah Karangrau, Sokaraja.
Memasuki masa pensiun, ia memilih tetap produktif dengan membuka usaha barber shop khusus pria.
Baginya, pensiun bukan akhir dari perjalanan, melainkan kesempatan untuk terus berkarya dan berbagi.
Di usia yang tak lagi muda, Abah Noor Emdjee menunjukkan bahwa sukses tidak selalu identik dengan jabatan, status sosial ataupun kekayaan yang melimpah.
Kadang, kesuksesan justru hadir ketika seseorang mampu menjaga bakat yang dimiliki, merawat semangat belajar, serta menjadikan kemampuan yang dimiliki sebagai jalan untuk membahagiakan orang lain.
Dan bagi Abah Noor Emdjee, panggung kehidupan sesungguhnya bukanlah tempat untuk mencari tepuk tangan, melainkan ruang untuk terus menebarkan manfaat. (wpas)








Posting Komentar