BERSWARANEWS.Com | Makkah - Peran strategis Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) kembali mendapat penegasan dari Tanah Suci. Di tengah kompleksitas pelayanan jamaah, keberadaan KBIHU terbukti bukan sekadar pendamping ibadah, melainkan mitra penting yang memperkuat sistem pelayanan haji secara menyeluruh. Hal itu mengemuka dalam dialog on air Radio Al Qudwah, Senin (15/6/2026), yang menghadirkan Ketua Kloter 76, Inung Siti Nur Hidayati, bersama KBIHU Miftahul Jannah Cilacap.
Mengangkat tema “Peran KBIHU dalam Aktivitas Kloter 76 dan Suka Duka Perempuan dalam Memimpin Kloter”, perbincangan berlangsung hangat dan sarat pesan inspiratif. Inung menegaskan, KBIHU Miftahul Jannah memiliki kontribusi signifikan dalam menopang kelancaran berbagai aktivitas jamaah selama berada di Makkah.
Menurutnya, harmonisasi antara pembimbing KBIHU, Ketua Rombongan (Karom), Ketua Regu (Karu), serta petugas penyelenggara ibadah haji telah menciptakan ekosistem pelayanan yang solid. Sinergi tersebut menjadi modal penting dalam menjaga kekompakan sekaligus memastikan jamaah dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan tertib.
“KBIHU Miftahul Jannah sangat aktif dalam berbagai kegiatan kloter. Para pembimbing dan ketua rombongan mampu berkomunikasi dengan baik, berkolaborasi, serta bersinergi dengan seluruh unsur pelayanan haji sehingga aktivitas jamaah berjalan lancar dan harmonis,” ujar Inung.
Dalam siaran tersebut, KBIHU Miftahul Jannah menghadirkan sejumlah pembimbing, yakni Ustadz Teguh, Ustadz Zaini, Ustadz Nur Said, serta H. Ahmad Nurali yang juga menjabat Ketua Rombongan 9 Kloter 76. Kehadiran para pembimbing itu menjadi bagian penting dalam penguatan manasik, pendampingan spiritual, sekaligus membangun komunikasi efektif di tengah jamaah.
Menariknya, ketika ditanya mengenai suka duka memimpin kloter sebagai seorang perempuan, Inung justru memandang amanah tersebut sebagai kebahagiaan. Baginya, pelayanan kepada para tamu Allah merupakan ruang pengabdian yang dijalani dengan keikhlasan dan semangat ibadah.
“Tidak ada duka. Semua terasa menyenangkan karena kami menjalaninya dengan semangat beribadah dan ikhlas. Selain itu, keberadaan lima KBIHU yang ada di kloter menjadi kekuatan besar bagi kami. Mereka banyak membantu dan berkolaborasi karena di dalam KBIHU terdapat tokoh-tokoh hebat yang turut mendukung kelancaran pelaksanaan ibadah jamaah,” tuturnya.
Pandangan tersebut mencerminkan wajah pelayanan haji yang dibangun di atas semangat kolektif. Bagi Inung, kekompakan antara Ketua Kloter, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH), pembimbing KBIHU, Karu, dan Karom telah melahirkan suasana yang tidak hanya profesional, tetapi juga penuh nuansa kekeluargaan.
Dari sinilah pelayanan haji memperoleh dimensi yang lebih luas. Di balik setiap rangkaian ibadah yang dijalani jamaah, terdapat kerja sunyi para pembimbing dan petugas yang terus memastikan kebutuhan jamaah terpenuhi. Peran KBIHU pun berkembang menjadi jembatan yang menghubungkan aspek spiritual dengan pelayanan teknis di lapangan.
Siaran Radio Al Qudwah menjadi momentum untuk memperlihatkan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh kekuatan kolaborasi dan keikhlasan para pelayan jamaah. Di Tanah Suci, sinergi bukan sekadar jargon. Ia menjelma menjadi ikhtiar nyata yang menghadirkan kemudahan, menumbuhkan rasa persaudaraan, dan mengantarkan para tamu Allah menapaki perjalanan menuju haji yang mabrur dengan hati yang tenang dan penuh keberkahan. (wpas)





Posting Komentar