BERSWARANEWS.Com | Singapura - Arena kompetisi dipenuhi denting mesin, sorak peserta, dan adu kecerdasan teknologi dari berbagai negara. Namun, ketika papan hasil akhir diumumkan, satu nama berulang kali menggema sebagai juara: MIN 1 Banyumas, Indonesia.
Empat siswa madrasah itu tampil bak tim elite yang datang bukan sekadar meramaikan persaingan, melainkan menaklukkan panggung internasional. Pada Robotic International Singapore 2026 yang berlangsung pada 26–30 Juni 2026, mereka mencetak hattrick kemenangan dengan menyapu bersih tiga gelar juara pertama sekaligus.
Tak ada yang lebih membanggakan daripada melihat Merah Putih berkibar di negeri orang berkat kecerdasan anak-anak bangsa.
Dominasi dimulai dari nomor Sumo Robot 500 Gram. Berbekal robot yang presisi, strategi matang, dan ketenangan menghadapi tekanan, duet Rafardhan Athalla dan Erland Shaarawy Nuramadani sukses merebut Juara 1 setelah menyingkirkan lawan-lawan terbaik dari berbagai negara.
Belum reda euforia kemenangan pertama, giliran sektor Robot Soccer menghadirkan kejutan. Ryugi Dwinandito bersama Zeyhan Muhammad Nabhan menunjukkan koordinasi, kecepatan membaca permainan, dan kemampuan pemrograman robot yang impresif hingga memastikan gelar juara tetap menjadi milik Indonesia.
Puncak dominasi hadir pada kategori Merakit Robot Panel Surya. Empat siswa MIN 1 Banyumas kembali membuktikan kapasitasnya sebagai satu tim yang solid. Rafardhan, Erland, Ryugi, dan Zeyhan menyelesaikan tantangan dengan performa terbaik sehingga kembali berdiri di podium tertinggi.
Tiga kategori. Tiga final. Tiga gelar juara pertama.
Sebuah sapu bersih yang tidak hanya menunjukkan kecakapan teknologi, tetapi juga mental juara yang matang di level internasional.
Keberhasilan tersebut mematahkan anggapan lama bahwa madrasah hanya identik dengan pendidikan keagamaan. Dari ruang-ruang belajar tempat ayat suci dilantunkan setiap hari, lahir generasi yang mampu menguasai kecerdasan buatan, rekayasa robotik, hingga teknologi energi terbarukan.
Mereka membuktikan bahwa iman dan ilmu pengetahuan bukan dua kutub yang saling bertolak belakang, melainkan fondasi yang saling menguatkan.
Kepala MIN 1 Banyumas, H. Mahruri, S.H.I., M.Pd.I., menyampaikan rasa syukur atas pencapaian luar biasa tersebut.
"Alhamdulillah, prestasi ini merupakan anugerah Allah SWT sekaligus buah dari kerja keras siswa, pembimbing, guru, dan dukungan orang tua. Madrasah telah membuktikan mampu melahirkan generasi unggul, berkarakter, berprestasi, dan mendunia."
Apresiasi juga datang dari Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaduddin, S.Ag., M.Pd. Menurutnya, kemenangan ini merupakan bukti konkret bahwa madrasah mampu melahirkan peserta didik yang unggul dalam sains, teknologi, sekaligus memiliki karakter kuat.
"Prestasi ini menunjukkan bahwa madrasah mampu mencetak peserta didik yang siap bersaing di tingkat internasional. Semoga menjadi inspirasi bagi seluruh madrasah untuk terus berinovasi."
Pengawas Pendidikan MI Purwokerto Timur, Hj. Hidayaturrohmah, S.Ag., M.Pd.I., yang mendampingi kontingen sejak keberangkatan hingga perlombaan di Singapura, menyaksikan langsung bagaimana disiplin dan mental bertanding para siswa tumbuh sepanjang kompetisi.
"Saya menyaksikan langsung semangat, disiplin, dan mental juara anak-anak selama mengikuti kompetisi. Mereka menunjukkan bahwa kerja keras, doa, dan ketekunan mampu menghadirkan prestasi yang membanggakan Indonesia."
Keberhasilan ini juga tidak lepas dari sentuhan pembinaan yang konsisten. Pembimbing robotik dari UGM, Wahyudi, menilai kemenangan tersebut lahir dari kombinasi rasa ingin tahu yang tinggi, latihan yang disiplin, dan kemampuan bekerja sama.
"Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, disiplin berlatih, serta tidak mudah menyerah. Mereka mampu bekerja sama dengan sangat baik hingga tampil maksimal di kompetisi internasional."
Bagi para juara, kemenangan ini bukan sekadar membawa pulang trofi. Lebih dari itu, mereka berhasil membawa nama Indonesia berdiri sejajar dengan negara-negara lain dalam kompetisi teknologi dunia.
"Kami sangat senang dan bersyukur. Kami berlatih dengan sungguh-sungguh dan akhirnya dapat membawa nama MIN 1 Banyumas serta Indonesia menjadi juara," ujar Ryugi Dwinandito.
Prestasi di Singapura menjadi penanda penting bahwa masa depan pendidikan Indonesia sedang tumbuh dari berbagai ruang belajar, termasuk madrasah. Di sana, nilai-nilai karakter dipadukan dengan penguasaan teknologi, melahirkan generasi yang adaptif menghadapi tantangan era digital.
Hattrick emas MIN 1 Banyumas bukan sekadar kemenangan dalam sebuah lomba robotik. Ini adalah pesan kuat bahwa anak-anak madrasah mampu menjadi pemain utama dalam kompetisi global.
Dari Banyumas menuju Singapura.
Dari madrasah menuju panggung dunia.
Dan dari tangan-tangan kecil itulah, harapan besar Indonesia tentang masa depan sains, teknologi, dan inovasi terus menemukan jalannya.
Informasi kegiatan ini disampaikan dari Singapura oleh Serli Susilowati dan Editor Tri Susanti kepada awak media melalui jaringan telepon pada Minggu (28/06/2026). (wpas)






Posting Komentar