74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Kisah Maryati Jual Jamu Keliling Komplek di Jalan Sidanegara Purwokerto Sejak Tahun 1975

Maryati, seorang perempuan paruh baya di Purwokerto sudah sibuk meracik jamu tradisional di dapur sederhananya.

BERSWARANEWS.Com | Banyumas
Setiap hari pukul 03.00 dini hari, saat sebagian besar orang masih tertidur lelap, Maryati, seorang perempuan paruh baya di Purwokerto sudah sibuk meracik jamu tradisional di dapur sederhananya. Ia adalah seorang ibu kelahiran 1975 yang telah menjalani profesi sebagai penjual jamu keliling selama hampir setengah abad.

“Mulai tahun 1975 sudah jualan jamu. Ibu saya yang jualan di Surabaya. Saya yang beli, lalu saya yang jual,” katanya kepada Berswaranews.com, Minggu (24/5/2026).

Warisan usaha keluarga itu terus ia lanjutkan hingga kini. Meski sudah memasuki usia 50 tahun, rutinitasnya tetap sama. Setelah meracik jamu sejak pukul tiga pagi, ia mulai berkeliling menjajakan dagangannya mulai pukul 06.00 hingga 12.00 siang.

Ia membawa jamu dalam takaran sederhana menggunakan botol dan ember. “Ini loro, ini loro papat… totalnya rumpuluh liter,” ujarnya sambil menjelaskan stok dagangannya. Satu liter jamu ia jual dengan harga sangat terjangkau, antara Rp400 hingga Rp500.

Kunyit Asam Paling Laris

Dua varian jamu yang paling laku adalah kunyit asam dan jamu asam. Menurutnya, meski persaingan dengan minuman kemasan semakin ketat, pelanggan setianya masih banyak yang mencari jamu tradisional untuk menjaga kesehatan.

Perempuan ini mengembangkan usaha yang sama seperti yang dilakukan ibunya dulu. Ia menyiapkan bahan-bahan dan bumbu sendiri, kemudian menjajakannya di jalan-jalan, kompleks perumahan, dan depan-depan toko di kawasan Solo dan sekitarnya pada waktu masih ikut ibunya.

Warisan Keluarga yang Tetap Dijaga

Meski anak-anaknya sudah sukses dengan pekerjaan masing-masing salah satunya berusia 48 tahun dan bekerja sebagai guru di daerah barat Indonesia ia memilih tetap menjalankan usaha jamu. Baginya, ini bukan sekadar mata pencaharian, melainkan tanggung jawab dan warisan.

“Kadang nggak ada apa-apa, kurang makan. Tapi tetap jalan,” tuturnya sederhana, menggambarkan perjuangan yang dihadapinya.

Di tengah maraknya gaya hidup modern dan minuman kesehatan pabrikan, kisah perempuan ini menjadi potret keteguhan menjaga tradisi di Indonesia. Dengan kerja keras yang dimulai sejak dini hari, ia terus membuktikan bahwa rezeki halal masih bisa diraih melalui cara-cara tradisional yang sederhana namun penuh makna.

0

Posting Komentar