74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Demokrasi Kampret di Kebun Buah

 


Oleh: Riswo Mulyadi


Di bawah rimbunnya dedaunan saat matahari sudah condong ke barat, sedang berjalan sebuah sistem politik purba yang ajaib dan kurang ajar: Demokrasi Kampret.


Kampret—si kelelawar kecil pemakan buah yang hobinya nongkrong jungkir balik—adalah prototipe paling sahih dari oknum yang lincahnya minta ampun kalau urusan mencari keuntungan pribadi.


Mereka ini tidak punya kontribusi apa-apa dalam dinamika perawatan kebun. Tidak ikut menyangkul tanah, ogah ikut memupuk, apalagi ikut pusing menyirami pohon saat musim kemarau melanda. Tapi begitu buah mulai masak dan baunya harum semerbak, kawanan ini langsung datang berbondong-bondong, bikin koalisi dadakan, lalu merasa paling berhak atas seluruh hasil panen.


Gaya “sidang paripurna” mereka di atas pohon pun sangat akrab di telinga kita. Gaduh, berisik, cicit-cicit saling sikut berebut dahan yang paling empuk dan paling dekat dengan buah termanis. Semuanya sibuk bersuara lewat corong masing-masing, tapi tidak ada satu pun yang mau mendengarkan.


Pokoknya, yang penting perut kelompoknya kenyang dan eksistensi mereka diakui oleh seisi kebun.


Kampret dengan sukses mempraktikkan sebuah teori politik modern yang sering kita lihat di televisi: pihak yang paling berisik, pandai bermanuver di ruang gelap, dan pintar mencari celah, dialah yang bakal mendapat fasilitas paling mewah.


Filosofi “Bergelantungan Terbalik”


Mengapa sistem “Demokrasi Kampret” ini bisa langgeng luar biasa dari tahun ke tahun? Jawabannya ada pada cara pandang mereka. Kampret melihat dunia dengan cara jungkir balik. Bagi mereka, atas adalah bawah, dan bawah adalah atas.


Maka jangan heran kalau di dalam ekosistem kebun buah ini, nilai-nilai moral ikut terbalik:


Yang bekerja keras memeras keringat di posisi bawah (pemilik kebun) justru harus mengalah, gigit jari, dan hidup pas-pasan.


Yang kerjanya cuma bertengger di posisi atas sambil tebar pesona (dan tebar kotoran) malah hidup makmur sejahtera menikmati hasil bumi tanpa beban pajak atau iuran.



Mau dipasang jaring atau dipasang jebakan? Ah, kampret ini terlalu cerdik. Mereka punya sistem radar navigasi alami (ekolokasi) yang sangat canggih. Mereka tahu betul kapan harus tiarap dan sembunyi saat pemilik kebun datang membawa senter, dan tahu kapan harus kembali “merampok” saat situasi sudah aman terkendali.


Pada akhirnya, Demokrasi Kampret di kebun buah ini adalah tontonan komedi satir yang sengaja disajikan alam agar kita tidak terlalu stres melihat realita kehidupan sehari-hari. Mau diusir habis-habisan sampai begadang tiap malam, energi kita sudah habis dipakai untuk memikirkan cicilan dan kebutuhan dapur yang makin mencekik. Mau dibiarkan begitu saja, kelakuannya kadang makin melunjak sampai satu pohon dihabisi tanpa sisa.


Mungkin, jalan terbaiknya adalah menganggap kawanan kampret ini sebagai hiburan malam gratisan. Biarkan mereka melanjutkan parodi politiknya yang riuh, gaduh, dan jungkir balik di bawah kegelapan malam. Kita yang masih waras tetap fokus bekerja dengan jujur di siang hari mencari nafkah yang halal.


Tapi ya... kalau “suara” mereka sudah mulai keterlaluan dan buah-buah terbaik kita habis dijarah tanpa sisa, rasa-rasanya ketapel tradisional atau bambu panjang bergetah sesekali perlu ikut “interpelasi” di tengah malam!


Riswo Mulyadiseorang guru madrasah di pelosok Banyumas yang hobi membaca, menulis, dan mengamati keadaan. Sehari-hari disibukkan dengan rutinitas mengajar, mendidik, dan tentu saja suka ngopi dan puisi. Tinggal di Karang Anjog, Cihonje, Gumelar, Indonesia.

0

Posting Komentar