74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Masa Depan Pendidikan Agama Ditentukan Hari Ini: Guru PAI Dituntut Melampaui Zona Nyaman


BERSWARANEWS.Com | Salatiga - Transformasi pendidikan tidak selalu lahir dari ruang-ruang besar penuh sorotan. Terkadang, perubahan justru bermula dari forum yang mempertemukan orang-orang dengan kegelisahan yang sama: bagaimana memastikan pendidikan agama tetap relevan di tengah dunia yang berubah begitu cepat.


Semangat itulah yang terasa dalam Focus Group Discussion (FGD) Pembinaan dan Penguatan Program Kerja Pokjawas PAI, FKG PAI TK, KKG PAI SD, serta MGMP PAI SMP, SMA, dan SMK yang digelar di Grand Wahid Hotel Salatiga, 29–30 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang diterima awak media dari narasumber di lingkungan Bidang Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, sebanyak 50 pengurus organisasi profesi guru dan pengawas PAI hadir menyusun arah baru pendidikan agama di Jawa Tengah.


Forum ini jauh melampaui agenda administratif penyusunan program kerja. Ia menjadi ruang strategis untuk membaca tantangan zaman sekaligus merumuskan respons konkret terhadap perubahan lanskap pendidikan yang dipengaruhi digitalisasi, perkembangan teknologi, hingga tuntutan pembelajaran yang semakin inklusif.


Di tengah derasnya arus informasi dan kecerdasan buatan, guru Pendidikan Agama Islam tidak lagi cukup hanya menjadi penyampai materi. Mereka dituntut menjadi pembimbing karakter, penggerak inovasi, sekaligus pembelajar sepanjang hayat yang mampu menghadirkan nilai-nilai keislaman secara kontekstual bagi generasi digital.


Ketua Pokjawas PAI Jawa Tengah, Kasan Asari, menegaskan bahwa implementasi Capaian Pembelajaran berdasarkan Keputusan Kepala BKPDM Nomor 020 Tahun 2026 harus diikuti dengan budaya refleksi akademik dan dokumentasi praktik-praktik baik yang lahir dari ruang kelas.


Menurutnya, pengalaman mengajar yang berhasil tidak boleh berhenti sebagai cerita di lingkungan sekolah masing-masing, tetapi perlu diolah menjadi karya ilmiah yang dapat menjadi referensi sekaligus inspirasi bagi guru di berbagai daerah.


"Guru PAI Jawa Tengah harus menjadi produsen inovasi pembelajaran. Setiap praktik baik yang lahir dari kelas perlu didokumentasikan sebagai karya ilmiah yang dapat menginspirasi guru-guru di seluruh Indonesia," tegasnya.


Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan paradigma yang sedang dibangun. Guru tidak lagi diposisikan sebagai pelaksana kebijakan semata, melainkan sebagai produsen pengetahuan yang mampu melahirkan inovasi berbasis pengalaman nyata di lapangan.


Dimensi lain yang mengemuka dalam FGD adalah transformasi sistem kepengawasan. Wakil Ketua Pokjawas PAI Jawa Tengah, Siti Nur Hidayati atau yang akrab disapa Inung, memaparkan tiga program unggulan yang menjadi prioritas organisasi profesi, yakni penyelenggaraan Lomba Guru dan Pengawas PAI Berprestasi tingkat Provinsi Jawa Tengah, percepatan digitalisasi kepengawasan, serta pelatihan pembelajaran Baca Tulis Al-Qur'an bagi peserta didik berkebutuhan khusus sebagai penguatan Gerakan Tuntas Baca Tulis Al-Qur'an (TBTQ).


Bagi Inung, perubahan cara kerja merupakan keniscayaan di era digital. Pengawasan pendidikan tidak lagi cukup mengandalkan administrasi manual dan daftar cek yang bersifat formalistik. Yang dibutuhkan adalah sistem pengawasan yang menghasilkan data akurat, terukur, dan mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan pendidikan yang lebih efektif.


"Era digital menuntut cara kerja baru. Pengawasan tidak boleh lagi identik dengan sekadar mengisi daftar cek. Semangat inovasi harus dihidupkan kembali agar pengawasan menghasilkan data yang akurat sebagai dasar pengambilan kebijakan," ujarnya.


Pandangan tersebut memiliki bobot tersendiri mengingat Inung merupakan peraih Juara I Nasional Pengawas PAI Berprestasi Tahun 2023, sehingga gagasan yang disampaikan lahir dari pengalaman praktik, bukan sekadar konsep.


Namun, salah satu pesan paling kuat dalam forum ini justru berkaitan dengan inklusivitas pendidikan agama. Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus, organisasi profesi menilai kompetensi guru PAI juga harus berkembang agar mampu memberikan layanan pembelajaran yang setara bagi seluruh peserta didik.


"Guru PAI perlu dibekali kompetensi khusus agar mampu mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus secara profesional, penuh empati, dan sesuai karakteristik belajarnya," tandasnya.


Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi pendidikan agama tidak hanya berbicara mengenai teknologi, tetapi juga menyangkut keadilan akses pendidikan. Pendidikan agama yang berkualitas harus mampu menjangkau setiap anak tanpa membedakan kondisi fisik, intelektual, maupun sosialnya.


Semangat inovasi yang berkembang dalam forum itu mendapat apresiasi dari Kepala Bidang PAI Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, Aini Sa'adah. Ia berharap berbagai gagasan yang lahir tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan, tetapi benar-benar diwujudkan melalui kerja nyata organisasi profesi.


"Semoga harapan ini bukan sekadar mimpi di siang bolong. Jawa Tengah harus terus menjaga semangat berkarya, berinovasi, dan melahirkan prestasi. Organisasi profesi harus menjadi motor penggerak perubahan yang menghadirkan manfaat nyata bagi guru, peserta didik, dan masyarakat," ujarnya yang disambut antusias para peserta.


FGD yang juga dihadiri Ketua Tim Bidang PAI jenjang PAUD/TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga SLB tersebut menjadi simbol penting bahwa pembangunan pendidikan agama di Jawa Tengah diarahkan melalui kolaborasi lintas organisasi profesi, penguatan kapasitas sumber daya manusia, dan pemanfaatan teknologi secara bijaksana.


Lebih dari itu, forum ini mengirimkan pesan bahwa kualitas pendidikan agama tidak semata diukur dari capaian akademik, melainkan dari keberhasilannya membentuk manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, kepekaan sosial, dan kemampuan beradaptasi dengan perkembangan zaman.


Dari Salatiga, sebuah optimisme kembali diteguhkan. Bahwa transformasi Pendidikan Agama Islam bukan sekadar agenda birokrasi, melainkan gerakan bersama untuk melahirkan generasi yang cerdas pikirannya, kuat imannya, luhur akhlaknya, serta mampu menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebagaimana pesan luhur yang menjadi penutup semangat forum tersebut, "Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (wpas)

0

Posting Komentar