BERSWARANEWS.Com | Purwokerto - Upaya menekan berbagai persoalan yang mengancam generasi muda, termasuk tingginya angka kehamilan pada anak usia sekolah yang tercatat mencapai 435 kasus sepanjang 2025, menjadi perhatian serius Kementerian Agama Kabupaten Banyumas. Melalui program Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), Kemenag tidak hanya memperkuat pendidikan karakter bagi pelajar, tetapi juga menegaskan pentingnya profesionalisme aparatur dalam menjalankan sekaligus mengomunikasikan program pendidikan kepada masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaduddin, S.Ag., M.Pd., saat memimpin rapat koordinasi pelaksanaan BRUS. Menurutnya, keberhasilan program pendidikan tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan kegiatan, tetapi juga oleh kepatuhan terhadap regulasi serta kemampuan menghadirkan manfaat program secara nyata kepada publik.
Dalam arahannya, Ibnu mengutip konsep kepemimpinan John Maxwell yang dinilai relevan bagi aparatur sipil negara, khususnya di lingkungan Kementerian Agama.
"Pertama, We know the way, kita harus benar-benar memahami aturan, standar operasional prosedur, dan landasan hukum dalam setiap pelaksanaan tugas. Kedua, We go the way, kita melaksanakan tugas sesuai aturan yang berlaku. Namun tantangan terbesar adalah We show the way, yaitu bagaimana kita mampu menunjukkan keteladanan sekaligus hasil kerja nyata kepada masyarakat," ujarnya.
Ia menegaskan setiap program pendidikan dan pembinaan harus dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan terbaru serta Standar Operasional Prosedur (SOP). Kepatuhan terhadap regulasi, kata dia, merupakan fondasi untuk menjaga kualitas layanan sekaligus akuntabilitas institusi.
Sebagai contoh, narasumber dalam kegiatan manasik haji diwajibkan memiliki sertifikat resmi. Meski di lapangan terdapat tokoh agama yang memiliki kapasitas keilmuan dan dihormati masyarakat namun belum tersertifikasi, penyelesaiannya harus tetap mengedepankan aturan tanpa mengabaikan kearifan lokal.
Selain penguatan tata kelola, Ibnu juga menyoroti pentingnya transformasi komunikasi publik. Menurutnya, berbagai program pendidikan yang telah terlaksana tidak boleh berhenti sebagai laporan internal, melainkan perlu dipublikasikan melalui berbagai kanal informasi agar manfaatnya diketahui masyarakat luas.
Ia mendorong seluruh jajaran memanfaatkan media sosial resmi, seperti TikTok, Facebook, Instagram, dan YouTube, serta menggandeng media massa untuk memperluas jangkauan informasi.
"Satu kegiatan dapat diolah menjadi berbagai bentuk informasi. Jika satu berita disebarkan oleh dua puluh lima orang melalui empat platform media sosial, jangkauan informasinya akan sangat besar. Anggaran, waktu, dan tenaga yang telah dikeluarkan negara harus dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Itulah makna glorifikasi, yaitu memperlihatkan hasil kerja, bukan memuji diri sendiri," jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya membedakan antara capaian dan rencana. Menurutnya, hanya program yang telah dilaksanakan dan menghasilkan manfaat nyata yang layak dipublikasikan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat.
Di akhir arahannya, Ibnu memberikan apresiasi kepada seluruh jajaran atas kinerja yang telah ditunjukkan selama ini. Ia mengajak seluruh pegawai terus memperkuat kolaborasi, menjaga integritas, dan menghadirkan pelayanan pendidikan keagamaan yang berdampak nyata bagi masyarakat.
"Mari kita pastikan setiap langkah kita benar, setiap hasil kita bermanfaat, dan setiap kerja keras kita dapat menjadi teladan bagi masyarakat yang kita layani," pungkasnya. (wpas)






Posting Komentar