74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

141 Tahun Stasiun Slawi, Dari Jalur Hasil Bumi Menjadi Nadi Mobilitas, Ekonomi, dan Sejarah Tegal


 

BERSWARANEWS.Com | Slawi - Pagi selalu dimulai dengan ritme yang sama di Stasiun Slawi, Kabupaten Tegal. Kereta datang dan pergi membawa pekerja, pelajar, pedagang, hingga keluarga yang hendak menempuh perjalanan. Di balik lalu lintas penumpang yang terus bergerak, stasiun bersejarah ini menyimpan kisah panjang tentang perubahan zaman, dari pusat distribusi hasil perkebunan pada era kolonial hingga menjadi simpul mobilitas modern yang menggerakkan denyut ekonomi masyarakat.


Lebih dari 141 tahun sejak mulai beroperasi pada 1885 sebagai bagian dari jalur kereta api Tegal–Slawi–Prupuk, Stasiun Slawi tetap mempertahankan fungsi utamanya sebagai penghubung. Jika pada masa lalu rel-rel besinya menjadi jalur distribusi gula, teh, dan tembakau menuju pelabuhan serta pusat perdagangan, kini jalur yang sama menghubungkan masyarakat dengan pusat pendidikan, kawasan industri, layanan kesehatan, hingga destinasi wisata di berbagai kota di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.


Manager Humas KAI Daop 5 Purwokerto, M. As'ad Habibuddin, mengatakan Stasiun Slawi memiliki makna yang jauh melampaui fungsi operasional sebagai tempat naik dan turun penumpang.


"Stasiun Slawi bukan hanya tempat kereta berhenti. Di dalamnya ada perjalanan masyarakat, aktivitas ekonomi, harapan untuk bekerja dan belajar, serta koneksi dengan daerah lain. Karena itu, keberadaan stasiun memiliki arti yang jauh lebih luas bagi masyarakat," ujarnya.


Perjalanan panjang stasiun ini juga tercermin dari meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap transportasi kereta api. Data KAI menunjukkan rata-rata volume penumpang berangkat dan datang di Stasiun Slawi terus mengalami pertumbuhan signifikan, dari 16.671 penumpang per bulan pada 2023 menjadi 18.209 penumpang pada 2024, kemudian meningkat menjadi 20.904 penumpang pada 2025. Hingga Juli 2026, angka tersebut kembali naik menjadi rata-rata 23.417 penumpang per bulan, atau tumbuh sekitar 40 persen dibandingkan tiga tahun sebelumnya.


Menurut As'ad, tren tersebut menunjukkan kereta api semakin menjadi pilihan utama masyarakat karena menawarkan moda transportasi yang aman, nyaman, efisien, dan tepat waktu.


"Pertumbuhan ini menunjukkan semakin tingginya kepercayaan masyarakat terhadap kereta api. Bagi KAI, setiap peningkatan jumlah pelanggan merupakan kepercayaan yang harus dijawab dengan pelayanan yang semakin aman, nyaman, tepat waktu, dan efisien," katanya.


Saat ini, Stasiun Slawi melayani delapan perjalanan kereta api setiap hari melalui KA Kamandaka dan KA Joglosemarkerto. Kehadiran kedua layanan tersebut membuka akses masyarakat menuju berbagai kota, sekaligus memperkuat konektivitas kawasan selatan Kabupaten Tegal dengan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan pendidikan.


Namun, nilai historis Stasiun Slawi tidak berhenti pada usianya yang telah melampaui satu abad. Stasiun ini juga mencatatkan tonggak penting dalam sejarah perkeretaapian nasional sebagai stasiun pertama di Indonesia yang mengoperasikan sistem persinyalan elektrik buatan dalam negeri sejak 2005. Pencapaian tersebut menandai kemampuan industri nasional dalam menghadirkan inovasi teknologi untuk mendukung keselamatan dan modernisasi transportasi kereta api.


Di luar fungsi transportasi, Stasiun Slawi turut membentuk ekosistem ekonomi masyarakat. Aktivitas penumpang menghidupkan warung makan, kios, toko kelontong, pedagang kuliner khas, hingga jasa transportasi lokal seperti ojek, becak, dan angkutan kota. Kehadiran stasiun menjadi penggerak ekonomi yang memberi ruang bagi usaha kecil untuk tumbuh seiring meningkatnya mobilitas masyarakat.


Kuliner khas seperti tahu aci, kerupuk antor, dan teh poci menjadi identitas yang menyambut setiap orang yang datang maupun meninggalkan Slawi. Tradisi "moci" atau menikmati teh menggunakan poci tanah liat pun tetap terjaga sebagai simbol keramahan masyarakat Tegal yang berpadu dengan geliat transportasi modern.


Selain menopang aktivitas ekonomi, Stasiun Slawi juga menjadi gerbang menuju berbagai destinasi wisata, di antaranya Objek Wisata Guci dan Taman Rakyat Slawi Ayu (TRASA). Konektivitas tersebut membuka peluang lebih besar bagi sektor pariwisata lokal untuk berkembang melalui kemudahan akses transportasi publik.


As'ad menegaskan, selama lebih dari satu abad, Stasiun Slawi telah menjadi saksi perubahan sosial, ekonomi, dan teknologi, tetapi tidak pernah kehilangan esensi utamanya sebagai penghubung kehidupan masyarakat.


"Selama 141 tahun, Stasiun Slawi telah menyaksikan banyak perubahan. Dari masa ketika kereta api mengangkut hasil bumi hingga sekarang ketika kereta api mengantarkan masyarakat menuju berbagai tujuan. Perannya terus berkembang, tetapi esensinya tetap sama, yaitu menghubungkan masyarakat dan membuka akses terhadap berbagai peluang," tuturnya.


Di tengah perkembangan transportasi modern, Stasiun Slawi membuktikan bahwa warisan sejarah tidak hanya layak dikenang, tetapi juga terus hidup melalui peran nyata dalam mendukung mobilitas, pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan daerah. Bagi KAI Daop 5 Purwokerto, menjaga stasiun berusia 141 tahun ini berarti merawat simpul sejarah sekaligus memastikan konektivitas yang semakin aman, nyaman, dan relevan bagi generasi masa kini maupun masa depan. (wpas)

0

Posting Komentar