74HssqAmpAieSQYdpeY0UHJ3eJx0ro2Bjc2BCzNj
Bookmark

Empat Dekade Dipisahkan Waktu, KAFE UNSOED 84 Buktikan Persahabatan Tak Pernah Pensiun


BERSWARANEWS.Com | Banyumas - Ada kerinduan yang tidak pernah benar-benar hilang. Ia hanya tersimpan rapi dalam ingatan, menunggu waktu yang tepat untuk dipertemukan kembali. Itulah yang tergambar dalam Reuni Akbar Alumni Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman Angkatan 1984 (KAFE UNSOED 84) di Grand Kanaya Ballroom Kirana, Baturraden, Minggu (19/7/2026).


Sebanyak 150 alumni dari berbagai penjuru Indonesia hadir dalam pertemuan perdana yang mengakhiri penantian hampir empat dekade. Mereka datang dari Banyumas Raya, Yogyakarta, Solo, Semarang, Pantura, Bandung, Malang, Sidoarjo, Jabodetabek, Batam, Pekanbaru hingga Soe, Nusa Tenggara Timur.


Lebih dari sekadar temu kangen, reuni tersebut menjadi penanda lahirnya sebuah komitmen baru. Para alumni sepakat membentuk Paguyuban KAFE UNSOED 84 sebagai wadah untuk menjaga komunikasi, mempererat persaudaraan, sekaligus memperluas kontribusi sosial di masa mendatang. Dalam forum itu, Megianto dipercaya menjadi ketua paguyuban.


Bagi generasi yang menempuh pendidikan pada era 1980-an, reuni bukan sekadar nostalgia romantik terhadap masa muda. Ia menjadi ruang untuk merekatkan kembali jejaring sosial yang sempat tercerai oleh dinamika kehidupan, karier, keluarga, hingga perpindahan domisili selama puluhan tahun.


Ketua Panitia sekaligus Ketua Paguyuban KAFE UNSOED 84 terpilih, Megianto, mengaku bersyukur reuni mampu mempertemukan kembali sahabat-sahabat lama yang sebagian besar telah kehilangan kontak selama lebih dari 30 tahun.


Menurutnya, kehadiran alumni dari berbagai daerah, bahkan Tian Yosis Talo yang datang dari Soe, Nusa Tenggara Timur, menjadi gambaran nyata bahwa ikatan persahabatan tidak mengenal batas geografis maupun waktu.


"Alhamdulillah, reuni ini menjadi jalan Allah SWT untuk kembali merajut ukhuwah. Banyak alumni berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan di masa mendatang," ujarnya.


Momentum tersebut memperlihatkan bahwa relasi yang dibangun di bangku kuliah memiliki daya tahan yang luar biasa. Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, persahabatan tetap menjadi modal sosial yang mampu menyatukan berbagai latar belakang profesi, pengalaman, dan perjalanan hidup.


Nuansa kebersamaan semakin terasa ketika seluruh peserta mengikuti permainan angklung dengan metode belajar instan yang dipandu tim profesional Sony Angklung dari Bandung. Tanpa memandang kemampuan bermusik, para alumni mampu memainkan harmoni nada secara bersama-sama.


Permainan sederhana itu menjadi simbol bahwa sebuah harmoni hanya dapat tercipta ketika setiap individu memainkan perannya secara selaras. Sebagaimana perjalanan hidup mereka, keberagaman pengalaman justru menjadi kekuatan yang memperindah kebersamaan.


Menariknya, mayoritas peserta kini telah memasuki usia 60 hingga 64 tahun, dengan dominasi usia 61 tahun. Namun usia seolah kehilangan makna ketika tawa, canda, dan cerita masa kuliah kembali mengisi ruangan. Mereka bukan lagi para pensiunan, profesional, pengusaha, birokrat, maupun akademisi. Mereka kembali menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi UNSOED angkatan 1984.


Didik Haryanto, alumni asal Yogyakarta, mengaku tak mampu menyembunyikan rasa harunya setelah hampir empat dekade tidak pernah bertemu maupun berkomunikasi dengan teman-teman seangkatannya.


"Alhamdulillah, reuni ini benar-benar luar biasa. Dari pagi hingga sore kami dibuat larut dalam suasana penuh kehangatan dan kebahagiaan, seakan kembali menjadi mahasiswa. Terima kasih kepada panitia yang telah mempertemukan kami kembali," katanya.


Perasaan serupa diungkapkan Supraptini. Baginya, keberhasilan reuni merupakan buah dari kerja keras panitia yang berhasil menghadirkan suasana kekeluargaan yang hangat dan penuh makna.


"Masyaa Allah, saya benar-benar speechless. Ikhtiar panitia sungguh luar biasa sehingga kami merasa sangat bahagia dan nyaman bersilaturahmi. Terima kasih kepada seluruh panitia dan para donatur. Semoga setiap kebaikan yang telah diberikan menjadi pemberat timbangan amal saleh di yaumil akhir. Aamiin ya Rabbal 'Alamin," tuturnya.


Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, reuni seperti ini menghadirkan pesan penting bahwa hubungan antarmanusia tetap menjadi investasi yang tak ternilai. Teknologi memang mampu mempercepat komunikasi, tetapi perjumpaan langsung tetap menghadirkan kehangatan emosional yang tidak dapat digantikan oleh layar gawai.


Reuni Akbar KAFE UNSOED 84 akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan atau temu kangen. Ia menjelma menjadi ruang untuk merawat memori kolektif, memperkuat jejaring persaudaraan, sekaligus mengingatkan bahwa waktu boleh berlalu hampir empat puluh tahun, tetapi persahabatan yang dibangun dengan ketulusan tidak pernah benar-benar berakhir.


Kini, melalui Paguyuban KAFE UNSOED 84, para alumni berharap tali silaturahmi yang telah tersambung kembali tidak berhenti pada sebuah pertemuan. Sebaliknya, ia diharapkan terus tumbuh menjadi ruang kolaborasi, saling menguatkan, memberi manfaat bagi sesama, serta menghadirkan keberkahan bagi seluruh keluarga besar alumni di masa yang akan datang. (wpas)

Posting Komentar

Posting Komentar